Sabtu, 08 Juni 2013

Sakral



Gugup itu,
Detak itu,
Debar itu,
Terkadang aku rindu,

Untukku, jatuh cinta itu momen sakral
Karena tidak semuanya bisa kujatuhcintai
Ada hal hal yang tidak bisa dijelaskan, kau pasti tau maksudku.

Ini bukan tentang aku saja,
Barangkali kamu juga sama sepertiku?
Tak bisa begitu mudah meletakkan hati
Membagi rasa begitu saja, untukku, itu hal yang tidak mudah
Jika jatuh cinta itu mudah, mungkin saat ini aku sudah  ratusan kali patah hati

Seperti kesakralan jatuh cinta, begitupun hati
Aku ingin hatiku tetap sakral,
Aku yakin, dengan siapapun aku nantinya
Aku akan bahagia,
Karena bahagianya itu adalah aku.

Aku tau,
Mungkin ini terbaca seperti pelipur lara,
Bukan, ini semacam doaku kepada hati-hati yang selalu terjaga
Jatuh cinta sebenarnya mudah, hanya menatanya untuk berdiri lagi butuh waktu,


Selasa, 28 Mei 2013

Awam




Aku tak mengerti apapun

Aku buta aksara

Aku tuli nada

Hambar rasa

Pekat gulita tersekap dalam hening yang ku cipta



Apa itu warna

Aku adalah penanya ulung

Hembusan debu yang terbang melengkapi ketidakmengertianku

Tentang langit kenapa biru

Dan air yang selalu mengalir



Membisu bukan aku,

Aku tak ingin putih dan hitam saja yang ada di kanvasku

Aku awam, tak mengerti tentang yang kau tau



Sediaku,

Biarlah tetap aku menjadi awam,

Agar kau selalu terlihat hebat dimataku,

Melengkapiku yang tidak mengerti

Menuangkan warna warna lain di kanvasku

Mampu memendungkan langit biruku

Dan membuat pusaran arus air didepan saluran air didepan rumahku

Kamu hebat kan,

Biarlah aku tetap awam,

Jangan paksa aku untuk benar benar mengerti,

Agar tetap kau, yang selalu terlihat hebat dimataku

:)


Senin, 27 Mei 2013

M A Y D A Y



"Mayday mayday..!! (ganti)"
"Iya, sekarang memang hari dibulan Mei,(ganti)"
"Hei maksudku, ada bahaya disini (ganti)"
"Hei, tapi aku baik baik saja (ganti)"
"Disini ada bahaya!! (ganti)"
"Kamu kenapa hei? (ganti)"
"Aku akan menuju ruang hampa dimana disana nanti tak bisa lagi kau terima radarku, disini kedap radar. Terimakasih telah menjaga radarku dengan baik ya. Setelah ini, aku akan hilang. Tak perlu mencariku, aku kan sudah memberitahumu ini. Aku pergi, aku akan baik baik saja. (ganti)"
"Mayday mayday !! – (ganti)"
(your service is out of date, please check the last activity and keep smile, everything gonne be repair, gonna be change, gonna be fine)








Minggu, 26 Mei 2013

E n e r g i



Sengatan menjalari seluruh tubuh

Dayamu digdaya, kuat tak terbendung

Dadaku berdebar

Debaran tak selalu jatuh cinta

Badanku gemetar

Bahwa sekarang setiap tutur katanya bisa begitu lugas



Aku selalu ingin jadi sepertinya

Liar, dinamis, selalu siap perubahan

Hidup, punya pengaruh, menghidupkan

Digdaya, tanpa batas, diluar lintasan dan sendirian



Sengatan itu menjalar lagi

Barangkali tubuhku terlalu ringkih

Debaran itu ada lagi

Debaran tak selalu jatuh cinta

Aku ingin bermimpi lagi

Badanku gemetar

Bahwa sekarang setiap tutur katanya bisa begitu meyakinkan



Aku akan percaya lagi, semua itu ada jalannya

Tinggal aku yang mencarinya, barangkali cara berjalanku yang terlalu
lambat

Aku akan sampai, aku berjanji.

Dan disaat kumenemukannya,

Barangkali aku berjarak tak sejauh ini,



Energi(mu), menulari(ku)lah ya :)





Arsy Dan Titik Hujan





Udah tiga hari ini aku nggak ketemu Arsy. Adik kecilku yang baru itu, ikut Ibu ke Ponorogo buat ketemu sama keluarga baru disana. Aku sama Ismail jaga rumah. Ada rasa kangen juga sih sama Arsy ehehe.

Oh ya, aku pernah bilang, pernah bikin julukan sih sebenernya, kalau aku sama Ismail itu anak langit. Suka lihat langit pagi sama suka lihat pelangi. Hari ini Arsy kelelahan, masih kecil udah pergi jauh jauh. Senyumnya kurang energi. Mau merangkak juga lemes, sampai nangis pun dia nggak kuat. Tadi sore, Arsy rewel. Nangis terus. Udah minum susu, udah digendong masih nangis juga. Akhirnya aku gendong Arsy, aku bawa kedepan rumah yang diluar lagi hujan gerimis. Aku pegang tangannya, buat nyentuh air hujan. Dan, Arsy diem. Suara hujan memang teduh, penenang. Suara hujan itu terapi jiwa, suara alam yang sejuk, menenangkan. Dan kali ini titik titik air hujan nenangin Arsy.

Lama aku duduk di teras rumah, dan tangan Arsy masih kubiarkan terkena hujan. Dia melamun, atau mungkin dia kelelahan. Dan saat dipanggil namanya, dia tersenyum. (adegan ini terjadi sungguhan, maaf kalau drama hehe)


Hei Arsy, aku tau kamu berbeda dari kami.
Namun, kita lahir dari Ibu yang sama bukan?
Dan memang sepantasnya kau adalah bagian kami, anak langit.
Sore ini, kau menunjukannya, bahwa kau adalah anak langit lainnya.
Yang menyukai hujan, dan bukan langit pagi
Yang menyukai hujan, dan belum tau apa itu pelangi
Arsy adikku, selamat.
Kau anak langit lainnya, sama sepertiku, sama seperti Ismail :)



Kamis, 23 Mei 2013

Sembunyi




Aku gugup,
Badanku gemetar,
Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja bukan?

Badan ini masih gemetar,
Isyaratku tak akan bisa kusembunyikan
Mereka diluar kendaliku
Aku bisa selalu seakan menyenyumimu, tanpa kau tau apa alasanku tetap tersenyum disaat wajarku merasa sebaliknya
Nadaku selalu tinggi kau dengar bukan?
Itu upayaku menyembunyikan banyak minor dalam nada yang kurasa mulai fals

JIka kemenghilanganku terasa baik, mungkin memang aku harusnya hilang.
Tak hanya berkata hilang, namun jika ada ‘nada’ itu kembali, aku bisa seketika hadir lama
Jika saja kemenghilanganku semudah itu,mungkin memang harusnya sudah dari dulu
Dan jika jeda itu akan lama sekali dari ini, ,harusnya akan lebih mudah
Tapi apakah aku sudah akan bisa?

Aku tidak pergi, kamu juga tak sepenuhnya pergi bukan?
Aku tidak hilang, kamu juga tak sepenuhnya menghilang bukan?
Aku mencoba sembunyi, sedangkan kau masih saja muncul disetiap sudut ruang ruang persembunyianku.



Kamis, 16 Mei 2013

Perindu Ulung





“Sudah merindukanku?”
“Aku rindu..”


Seperti tau kapan saatnya tepat datang, kamupun iya.
Aku yang lebih senang mendengarmu yang tak berjanji, nampaknya, dialog kita lama sekali tertundanya
Lamanya itu, apa bisa terangkumkan semua dialognya?


“Berapa waktu yang kau punya untukku?”
“Apa? Kamu terlihat seperti anak kecil yang ingin membeli waktu ayahnya agar bisa bermain.”
“Aku, serius.”


Nampaknya aku masih begitu kecil dimatamu,
Aku sedang bertumbuh, mendewasa,
Tak menjadi gadis yang hanya bisa merengek minta kau temani
Dan aku serius tentang ini,

Kau tau, aku merindukan celah waktu, meski sedetik
Dan aku tau, akan ada yang terasa hilang nantinya,
Tatapan, dan mungkin beberapa dialog yang kau sembunyikan dariku

Menemuimu, sama halnya dengan memperpendek draft bagian cerita yang tertunda
Menemuikulah ketika hanya kau merasa rindu,
Karena disaat itu, aku akan merasa tidak sendiri
Setidaknya kita sama sama perindu
Bedanya mungkin aku, perindu ulung
Meski telah berusaha mengunci pintu, namun bagaimana bila rasa itu tak terbendung?

Disini, tidak ada penawar racun
Apalagi untuk seorang yang ulung merindu seperti ini,
Semoga melihatmu sebentar bisa menjadi penawarnya sedikit
Dan entah pertemuan mana yang akan kita temui,
Dan dipertemuan mana kita bisa bercanda tanpa canggung yang kemudian rutin menyapa,

“Kapan kita ketemu?”