Tampilkan postingan dengan label Yearning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yearning. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

Selamat Hari Ayah, Yah :')




Aku tidak sedang merindukanmu
Aku hanya tiba-tiba teringat bahwa aku sudah lupa suaramu
Aku hanya tiba-tiba ingin kau peluk erat  setelah menonton drama tv yang paling ku benci
Ayah, Apa kabarmu sekarang?

Selamat Hari Ayah, Ayah
Masih sering mengawasiku kan Yah?
Masih tetap menjagaku kan Yah?
Masih selalu ada menyemangatiku kan Yah?
Ayah, masih tetap Ayah yang sempurna dimataku,dihatiku, saat ini, seterusnya.

Aku yakin, kau tak suka melihatku cengeng disaat aku mengingatmu seperti hari ini
Tapi biarkanlah aku menjadi gadis berumur sembilan tahun yang sering kau peluk dulu
Gadis kecil yang sering kau goda dengan hadiah hadiah
Gadis kecil yang sering kau semangati untuk bernyanyi dihadapanmu dengan malu malu

Aku menyesal, Yah.
Sekarang, aku hampir lupa suaramu
Ingatanku dulu buruk sekali, alat perekam pun tidak ada. Dan tak ada fikiran sedikitpun kau akan meninggalkanku disaat ingatanku buruk begitu.
Yah, bisa kirimin rekaman suara Ayah sekarang? Lewat whatsapp, line, voice note juga bisa hehe :’)
Andai ada teknologi semutakhir itu, pasti Ayah belikan satu untukku kan Yah? Untuk kita :’)
Maaf Yah, aku bicara yang tidak tidak.
Masih ada foto Ayah tersenyum yang bisa ku pandangi lama lama, masih ada ingatan kecilku tentang dialog dialog Ayah yang menyemangatiku untuk tidak mudah menyerah. Atau jika semua kenangan tentang Ayah hilang, Aku hanya perlu bercermin dan menatap mata diseberang cermin. Iya, mataku adalah mata Ayah, identik. Dan ketika aku memejamkan mata, maka akan ada dialog semangat tersamar dari setiap udara yang ku hirup, itu pasti semangat Ayah. :’)

Entah ini surat kerinduanku yang keberapa, dan aku tau kau akan membalas surat ini dalam mimpiku,
Cuma mimpi media menemuimu lagi Yah, Allah Maha Baik kan? Menciptakan mimpi mimpi.
Barangkali mimpi adalah teknologi termutakhir itu, mempertemukan orang orang berbeda dunia.
Setidaknya, aku masih bisa memimpikanmu Yah, Allah Maha Baik :’)

Selamat Hari Ayah, Aku selalu menyayangimu :)
Oh ya, Ismail kayaknya kangen Ayah juga tuh, nanti temuin dia dimimpinya ya Yah :)



Kamis, 29 Agustus 2013

Titik Bertemu



Aku menyayangimu,

Selayaknya kamu, menyayangiku

Akan ku buat sama

Agar tidak terberati salah satunya



Semua hal sudah dimengerti

Mungkin hanya impian impian kecil ini yang masih tertinggal

Ada dongeng dongengku yang bisa kau visualkan

Ada senandungku yang belum genap nada nadanya



Impian kecil, langkah yang sedang kita jalani sendiri sendiri

Suatu hari, kita pasti akan bertemu di titik itu.

Titik dimana aku dan kamu berada di hari penuh senyuman menyejukkan, ku dan mu

Dimana kita bisa melepas lelah sejenak setelah berjalan cukup jauh meninggi

Sejengkal dari bulan, selangkah dari bintang



Aku percaya titik itu ada, hari itu akan datang.

Aku percaya, aku meyakini, aku mengusahakan, aku mendoakan

Dan kamu, tentu saja :)


Minggu, 11 Agustus 2013

Yang Mengiringi(mu)



Aku selalu ingin bisa menggenggam tanganmu
Didalam keadaan yang tak mungkin sekalipun
Diantara udara paling menyesakkan
Dan ketika musim kemarau sedang menggersangkan segala rasa

Melangkah dengan suara hentakan kaki yang bersahutan,
Tidak senada namun dalam irama yang terjaga
Bila Kamu riuh, Aku adalah redam
Bila Kamu dingin, Aku adalah peluk
Bila Kamu api, Aku adalah kayu bakarnya
Bila Kamu hujan, Aku adalah payung terbalikmu

Aku sudah terlihat nyaman ditempatku kan?
Tetap bisa melihatmu meski tak bisa menggenggamu setiap waktu
Berjalan dijalan berbeda namun tetap kearah yang sama

Aku tidak akan menjadi sepertimu
Aku tidak akan menyamaimu
Kamu punya duniamu, begitupun aku.

Seperti galaksi, kita adalah dua dunia yang berputar putar
Berbeda, namun saling beriringan
Dan Aku, mengiringimu..



*ditulis saat bulan sabit tersenyum sempurna, di galaksi district 9
puisi bintang-bintang. 

Sabtu, 13 Juli 2013

Pelangi Duka


Dan awan selalu berganti ganti
Dan angin lalu lalang mengacaukan arah
Ini sedang terjadi apa?
Gerimis masih sendu menyentuhku
Dan pelukan hujan juga masih hangat kurasakan

Aku merasa hilang
Diantara mendung dikastil langit
Aku kehilangannya, aku tak mau dia hilang, sungguh
Namun awan selalu berubah,
Dan angin lalu lalang mengacaukan arah

Pelangiku kini abu abu
Yang kini kupandangi dengan mata berair
Dan setelah hujan mana dia akan datang memelukku lagi?
Waktu membuatnya terburu buru pergi
Aku ingin kau tetap tinggal
Kenapa bahasaku menjadi tak kau mengerti lagi?

Aku masih ingin memelukmu
Di menit menit setelah hujanku
Aku merindukan pelukan hujanmu
Pelangiku yang kini abu abu,
Aku merindukan warnamu,
Tak hanya duka, aku kehilanganmu,



Pelangi Duka.
Di malam yang seharusnya tak ku miliki.


Kamis, 11 Juli 2013

Pencuri Waktu




Seperti detik yang terus berdetak,
Waktupun terus berjalan tanpa jeda
Keterbiasaanku mulai menghangat dengan kehadiran ‘tanpa’
Lalu entah, kau datang dan mengijinkanku mencuri waktumu
Seperti detik dan menit menit tak terhitung yang pernah ku curi dulu

Padahal sebelumnya, upayamu menghindari pertemuan kurasa hebat
Menunda, dan membuatku menulis jadwal penantian lain
Dan sekarang kau harus tau, bahwa waktu bisa memudarkan, memudarkan penantianku yang kutau tak berujung
Ah, aku tidak sedang menantimu bukan?

Mungkin saat ini, kau merindukan jeda
Dan kau tau didalam jedamu sudah tak lagi ada aku, kau pasti tau
Lalu, kau membiarkanku untuk mencuri waktumu
Menyediakan jeda itu lagi, jeda yang biasanya kurasa mahal

Aku tidak tau dimana waktu itu akan memudarkan semuanya
Barangkali, kelak aku tak punya waktu mencuri waktumu
Atau mungkin, aku sudah tidak mau jadi pencuri
Karena waktuku hilang dicuri,
Keterbiasaan akan menghangatimu nanti, juga
Ketika rindu memburumu mencuri waktu waktu yang hilang dariku

Barangkali, aku mengijinkanmu,


Selasa, 18 Juni 2013

Selamat Menikmati Kuemu :)


Aku bukan pelupa, hanya aku tak tau caranya
Ketika bahasa dan kata tak mampu ku menjangkaumu

Mungkin hanya isyarat ini yang bisa menyampaikan

Sepotong kue nada berhiaskan lilin lilin melodi :')


Aku tidak tau, semenjak kapan ucapan menjadi begitu penting
Tapi aku bukan pelupa, pelupa sepertimu :)

Selamat menikmati kuemu :)


"For all the reason I have, 
Perhaps, my words is nothing
And I just can to say something
In our distance
As always, my best wishes for you
Happy birthday :)"


Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?


Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara


Tahanlah, wahai Waktu
Ada selamat ulang tahun
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku


Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara


Jangan berjalan, Waktu
Ada selamat ulang tahun
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku


Mundurlah, wahai Waktu
Ada selamat ulang tahun
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s'lalu membara 
Untuk dia yang terjaga
Menantiku...


Kamis, 16 Mei 2013

Perindu Ulung





“Sudah merindukanku?”
“Aku rindu..”


Seperti tau kapan saatnya tepat datang, kamupun iya.
Aku yang lebih senang mendengarmu yang tak berjanji, nampaknya, dialog kita lama sekali tertundanya
Lamanya itu, apa bisa terangkumkan semua dialognya?


“Berapa waktu yang kau punya untukku?”
“Apa? Kamu terlihat seperti anak kecil yang ingin membeli waktu ayahnya agar bisa bermain.”
“Aku, serius.”


Nampaknya aku masih begitu kecil dimatamu,
Aku sedang bertumbuh, mendewasa,
Tak menjadi gadis yang hanya bisa merengek minta kau temani
Dan aku serius tentang ini,

Kau tau, aku merindukan celah waktu, meski sedetik
Dan aku tau, akan ada yang terasa hilang nantinya,
Tatapan, dan mungkin beberapa dialog yang kau sembunyikan dariku

Menemuimu, sama halnya dengan memperpendek draft bagian cerita yang tertunda
Menemuikulah ketika hanya kau merasa rindu,
Karena disaat itu, aku akan merasa tidak sendiri
Setidaknya kita sama sama perindu
Bedanya mungkin aku, perindu ulung
Meski telah berusaha mengunci pintu, namun bagaimana bila rasa itu tak terbendung?

Disini, tidak ada penawar racun
Apalagi untuk seorang yang ulung merindu seperti ini,
Semoga melihatmu sebentar bisa menjadi penawarnya sedikit
Dan entah pertemuan mana yang akan kita temui,
Dan dipertemuan mana kita bisa bercanda tanpa canggung yang kemudian rutin menyapa,

“Kapan kita ketemu?”