Jumat, 09 September 2016

Mengagumimu Dengan Anggun



Aku ingin mengagumimu dengan anggun
Tak mudah terlihat namun terlihat olehmu
Tersamar namun kau merasakan adaku
Tanpa menggebu aku didekatmu

Lalu, masih anggunkah Aku?
Ketika diam-diam aku mengamatimu
Menghafal nada suara, pandangan mata, langkah kakimu
Menunggu kesempatan untuk sekedar menyenyumimu
Atau berharap kau tiba-tiba muncul dan memanggil namaku

Lalu mampukah Aku, tetap anggun didepanmu?
Ketika wajah payahmu membuatku ingin menghiburmu
Ketika aturan yang ku buat tak berarti apapun selain senyummu
Dan ketika senyummu memeluk segala rinduku

Tersenyumlah, meski senyummu bukan hanya untukku.
Meski salah satunya, kuharap karenaku :)

Kamis, 18 Agustus 2016

Headline


Aku ingin menjadi headline dalam hari-harimu
Yang selalu muncul di halaman terdepan
Yang tercetak besar
Jadi yang terpenting

Dan yang paling awal Kau cari.

--
R.S.F



Camping Ceria edisi Ranukumbolo ! (part 2)




Pukul 17.30 an – Selamat Datang di Ranukumbolo 2400mdpl. :)

Udah ada Fitri, yang nungguin kami dan ngarahin buat istirahat di shelter. Istirahat sebentar, terus bantuin temen-temen bersihin tenda yang udah didiriin, dan keadaan saat itu adalah hu-jan. Jadi bangun tendanya sambil hujan hujanan. Dan karena tendanya kemasukan air, jadinya kudu dipel dulu, coba tebak pake apa, iyaps pilihan yang tersedia adalah pake kaos…dan bener aja, kaosnya Fajar jadi kain pel hari ini..

Kira-kira satu jam-an menata semua hingga rapi masuk dalam tenda, karena baju udah pada setengah basah, aku memutuskan buat ganti baju yang udah aku bawa, dan pas buka tas, betapa pengen nangisnya aku karena semua yang ada dalam tasku basah termasuk baju ganti, kertas-kertas dan semua yang udah disiapin, tak ada gunanya, iya, karena basah. Jadi yang bener-bener terselamatkan cuma baju yang nempel dibadan. Awalnya rangkap 4. Pakai kaos lengan panjang dirangkap sweater dirangkap jaket, dirangkap jaket lagi. Dan karena kedua jaketku setengah basah, jadi aku lepas, dengan harapan besok akan ada matahari. tapi sebelum bertemu pagi, kami harus melewati malam dulu, dan If you know, malam disini terasa begitu sangat teramat panjang….sekali. (saking lamanya, berasa di film horror yang banyak malemnya daripada siangnya). Tapi Aku nggak sendirian, karena Fitri pun juga mengalami hal yang sama, dan sebenernya dia paling gabisa nahan dingin. Dan sempet juga mengucapkan kata-kata terakhir dalam kehidupan, hhhhh. Hush. (ini kalau diceritain pengen ngakak, padahal pas kejadian, emang bener-bener seperti mau mati kedinginan.)

Dan karena segala perminyakan yang hangat-hangat gak mempan, akhirnya ngelirik satu benda yang daritadi udah ada ditenda, tapi luarnya udah basah. Yaps, Sleeping Bag. Awalnya pesimis bakal bisa dipake atau enggak, tapi setelah dikeluarin ternyata, benda itu sedikit mengurangi dingin. Iya sedikit. Karena tetep aja bagian yang basah, terasa dingin. 

Well, semua ciwi-ciwi udah rapi pake sleeping bag, tenda udah mirip banget kayak tempat penyimpanan larva. Sebenernya tendanya over capacity, tapi masih muat 5 orang, ya karena aku sama mami hemat tempat huhu, dan aku berfikir kalau tendanya penuh, bakal lebih hangat. Tapi ternyata gak ngefek juga, tetep kedinginan. Pas udah rapi atur posisi tidur kayak pindang dijemur, ngecek jam, dan betapa shocknya kami, waktu masih  menunjukan pukul 19.45! padahal rasanya sudah malem banget.

Dan betapa ngerasa bersalahnya aku, ketika tau tenda cowok-cowok kebanjiran, dan mereka sempet memutuskan buat tidur di shelter meskipun pada akhirnya balik lagi, karena di shelter juga lebih dingin. Jadi mereka tidurnya entah gimana caranya, yang jelas mereka lebih sengsara daripada cewek-cewek ini.
Karena ga ada lagi yang bisa dilakuin akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Iyaps, pukul 20.00 kami tidur. Iya, kami sempat tertidur. Aku kira bakal aman, dan aku akan terbangun besok pagi. Tiba-tiba, badanku bergetar, begitu pun mulutku, dan kerasa ada angin yang lewat bikin makin bergetar, iyaps, aku menggigil. Dan ternyata hal itu disebabkan karena tempat yang aku tidurin, kemasukan air (baca:ketampesan). Akhirnya aku bangun, Putri yang juga ketampesan air, bangun juga. Dan berharap itu udah subuh, karena perasaanku aku udah tidur lama banget, dan pas liat jam, waktu masih menunjukan pukul 20.30 WIB. H?

Akhirnya aku mengganti posisi dengan duduk. Dan sempet ketiduran juga, sebelum akhirnya Fitri, Eva, sama Mami, kebangun karena ketampesan juga. dan itu juga masih pukul 21.00 WIB. Well aku mulai terbiasa dengan siklus kebangun setiap setengah jam sekali. Hiks. Dan kemudian kami semua duduk dan bercerita ngalor-ngidul dengan harapan tendanya akan menghangat. Tapi itu nggak terjadi, karena tetep aja dinginnya terasa. Mulai dari situ tangisan pecah, pertama Fitri…kemudian Eva.. aku masih keliatan strong saat itu, masih sempet bilang “Kalau nangis membuatmu lebih baik, nangis aja.” Dan well…kami berganti posisi tidur lagi. Sampai akhirnya semua tertidur, dan tiba-tiba badanku menggigil lagi… aku kasih salonpas ke kakiku tapi gak ngefek sama sekali. Kudunya emang pake kaos kaki, tapi apalah daya, semua yang kering, basah. Sampai pada akhirnya aku duduk lagi dan tes-tes-tes… airmata keluar-keluar sendiri… dan aku gak kuat nahan nangis juga. karena merasa ada dalam keadaan terngenes sedunia, makin jadi deh nangisnya, udah jauh dateng, capek, dan kedinginan ini gak ada peredanya, kangen ibu, kangen rumah, gini banget sih ya Allah. Pas itu ngerasa nya kayak gitu. Sampai ngerasa karena kecapekan nangis, jadi setengah tidur-setengah sadar. Kayak mimpi lagi ngobrol, terus aku jawab. Dan aku juga ngerasa sebenernya kalau pas itu aku dipuk-pukin sama Putri, sama Fitri juga, tapi mataku merem. Sambil duduk. Diantara seduh sedan itu, sayup-sayup dari tenda lain terdengar bercandaan, yang pas itu bikin aku ketawa diantara nangisku tadi, kira-kira yang ku dengar gini , “Yak, pemirsa saat ini di Ranukumbolo ketinggian banjir sudah mencapai pinggang orang dewasa.”(dan aku bener-bener bayangin kalau tendanya bener-bener sebanjir itu) Diiringi dengan terdengarnya  tawa teman-temannya. Yang bikin aku kudu ketawa ya kudu nangis adalah, mereka itu kedinginan juga, bahkan kebanjiran tapi masih bisa ngelawak, sesuatu yang kudu ku pelajari hhhe. Terusan aku mencoba buat merebahkan badan ketempat yang tersisa, dengan masa bodoh basah yaudah gapapa, dan karena udah capek nangis jadinya aku ketiduran agak lama kali ini…


14 Agustus 2016 – Selamat Pagi, Ranukumbolo :)

Sampai akhirnya ada suaranya Fajar and the boys, manggil namaku… “Dhan-Dhan…” Akupun kebangun, dan langsung nanya pas itu jam berapa, dan kabar gembira… waktu itu menunjukan pukul 03.00. Alhamdulillah. Masa kritis sudah terlewati. Dan betapa bahagianya lagi, pas dibangunin disuruh makan, (berasa sahur ehehe) tapi enggak juga sih. Kata Fajar, ini adalah salah satu cara supaya nggak hipotermia. Jadi kalau kedinginan, makanlah. Kalau kedinginan lagi, makanlah lagi. Begitupun nasehat dari mas-mas yang nyopirin hardtop. And again, It Works!

Dan permasalahan selanjutnya setelah kedinginan dan setelah makan adalah mau buang air kecil, saat itu masih hujan. Tapi karena “the power of kebelet” jadi ya nekat aja hujan-hujan ke toilet. Dan mengabaikan segala rupa toiletnya gimana. Pas keluar tenda, aku lepas itu tadi salonpas yang nempel ditelapak kakiku, dan tara…. Kakiku rasanya beku, hampir mati rasa, tapi ya bodoh amat jadinya, Karena yang paling penting saat itu adalah sampai ke toilet dengan cepat.

Well setelah lega, dan karena udah kena air hujan jadi dinginnya udah berkurang sekarang, udah mulai menyesuaikan. Dan setelah itu yang kami lakukan adalah bercengkrama, beres-beresin tenda tipis-tipis, eva mengepang rambut mami, Fitri galau, Aku muter lagu terus nyanyi-nyanyi, Putri cuma ngeliatin semuanya dan mungkin dia berharap aku diem hhhhh, bercanda ding. Intinya kami beraktifitas. Dan karena diluar meskipun langit udah terang tapi masih hujan, dan karena lagi gabut juga akhirnya kami memutuskan buat nonton drama korea, “Let’s Fight Ghost episode 10” yang awalnya mau ditonton semalam, tapi karena tidak memungkinkan akhirnya ditonton pagi-pagi buta. Belum abis satu episode tiba-tiba matahari muncul memecahkan kebekuan ehehehe, dan kami memutuskan untuk mengakhiri nonton dramanya dan mengganti dengan bersiap siap buat melanjutkan kehidupan ~ yaps, menjemur segala yang basah. Abis bersihin muka berjamaah, akhirnya kami keluar untuk menyapa matahari hhh.

Maenan cilukba sama mami hhhh

Ini nih si Eva yang pagi-pagi udah jadi hair stylistnya mami :3

Ambil air di danau untuk melanjutkan kehidupan --

Pendaki lain juga udah pada keluar tenda, mendekat ke tepi danau. Ada yang foto-foto, ada yang ambil air ,ada yang nunggu orang lewat minta difotoin, ada. hhh

menyempatkan diri buat foto disini ihihi

Jemur yang perlu dijemur, mencuci yang perlu dicuci, makan yang perlu dimakan, foto yang perlu difoto.
Cuacanya lagi labil, matahari muncul…tiba-tiba serangan kabut datang. Muncul lagi… diserang kabut lagi. Dan tiap kali liat matahari muncul, pengen aja gitu nyanyiin lagunya Monita.. “Ma-ta-ha-ri..terbentang dilangit biru..” (setelah dicek, ternyata liriknya salah hhh, tapi gapapain aja ya ) dan bener aja, matahari yang sebentar muncul sebentar hilang itu cukup mengeringkan segala yang basah tadi. Ya, mataharinya disini terasa dekat.

Ranukumbolo pagi-pagi seusai hujan. Banyak baju-baju basah di luar tenda, ada yang meresin sleeping bag nya. Tenda jadi genteng jemuran, tripod didepanku pun jadi tempat gantung jemuran. (kudunya bawa tripod lebih banyak hhh, iya kalik)

Itu tuh, yang dibelakang, the legend, Tanjakan Cinta. :)

Korban banjir semalam huhu

Jangan dulu bilang Aku pakai jaket model begini gegara biar keliatan kekoreaan ya gaes, hhh. Ini sebenernya aku lagi jadi gantungan buat jaketku yang basah, biar kering. Apalah daya udah kehabisan tempat jemur, jadinya digantungin disitu deh :D (momen ini dipersembahkan oleh pop mie pink rasa ayam bawang *duh)


Sempet nyesek juga, karena banyak momen yang terlewatkan. Namun bedanya, kami memang rela melewatkannya. Karena keadaan, rasa lelah, cuaca yang tidak mendukung, dan …. mood yang sudah tak menggebu. Udah gak bertenaga bikin video ala jalan-jalan men, hhhh. Bahkan aku yang semula nggak mood foto pun, akhirnya aku mood-mood in foto, karena udah jauh-jauh dan capek kesini, kudu melakukan sesuatu yang berharga. Biar ada bukti otentik kalau udah sampai kesini. 


“Mimpi dalam tidur dengan mimpi yang jadi nyata itu sama. Sama-sama bikin kita bahagia dan bisa diceritakan. Bedanya, kalau mimpi yang jadi nyata itu bisa ada dokumentasinya.”


Dan penghibur untuk segala rasa ini marilah kita memakai petuah ini, “Nasi telah menjadi bubur, dan karena tidak mungkin jadi nasi lagi, marilah kita buat bubur ini menjadi enak.”

Well setelah itu kami sarapan pagi, dengan menu nasi bersarden, bertelur dan berabon. Rasanya not bad bahkan meski sardennya ga ditambahin apa-apa. Mungkin karena faktor kelaparan hhh. Setelah sarapan dan bongkar tenda lalu kami perjalanan pulang. Menyempatkan foto seadanya, berasa formalitas kunjungan wisata, karena senyumnya udah berat hhh. Dan kami berjalan kembali pulang.


senyumnya udah berat ya mb,mz ? hhh

Oh iya, kantong plastik yang ada dibawah itu isinya sampah. Sampah dari bungkus perbekalan kita, wajib dibawa turun dan dibuang ke tempat sampah dibawah. Jadi pesan moralnya, jangan buang sampah sembarangan, apalagi di gunung :) cara yang sederhana tapi seringkali diabaikan :'') demi kesejahteraan bersama... kalau kata Pak RTnya Dudung.


Menit-menit terakhir saat ditepi danau ranukumbolo yang berkabut, tiba-tiba lewat sepenggal lirik lagu yang mewakili perasaanku kepada kabut. “Kau datang dan pergi, oh begitu saja. Semua ku terima, apa adanya.”- Ruang Rindu, Letto. Yang entah aku diketawain pas nyanyiin itu hhhh. Saat itu Aku berusaha mengabadikan segala pemandangan ini dengan lensa terbaik Tuhan, mata. Dan tidak bisa ditangkap dengan kamera manapun, supaya bisa terlihat seperti yang mata kita lihat. Disana aku juga liat ada mas-mas lagi menyendiri sambil bawa pensil dan buku gambar. Mungkin dia sedang melukis, mengabadikan momen yang dilihatnya. Pas itu sempet kefikiran, seru juga kali ya, kalau sempat nulis lagu disana. Hehe. Tapi meskipun ga kesampaian nulis lagu disana, kalau ingat beberapa momen disana, bisa dijadiin lagu disini :’)

12.00 WIB – Selamat Tinggal, Ranukumbolo :’)

Sampai ketemu lagi Ranukumbolo, semoga suatu hari bisa kesini lagi, dan aku lebih beruntung saat itu.
Perjalanan pulang awalnya kurasa bakal lebih mudah. Iya bener, awalnya. Dengan beban yang berkurang dan bertambah sekaligus. Karena jalan yang tadinya tanjakan jadi turunan, begitupun yang tadinya turunan jadi tanjakan. Tapi memang banyak turunannya. Dan karena hujan semalam, jadi banyak yang longsor. Dan ada beberapa titik yang kudu ngantri dulu melintasinya. Dan tanjakan super di pos 3 itu, kalau macet parah. Dan jadi prosotan saking licinnya, jadi banyak juga korban kepleset berjatuhan disana. 

Saking exitednya karena emang terasa jalan lebih mudah, ada saat dimana kami jalan tanpa ‘break’ kayaknya perjalanan dari pos 3 ke pos 2. Dan kata Mas Cahya kami udah berjalan lebih dari 45 menit tanpa berhenti, waaaahhhh pencapaian luwar biyasa. Tapi karena mungkin terlalu semangat pengen cepet nyampe dibawah, sepertinya ada yang ga beres dengan kakiku, yaps, karena saat pulang jalannya banyak turunan, jadi kaki kudu kuat nge-rem juga. Dan karena pake jas hujan dan gabisa lepas tas tiap kali ‘break’ akhirnya aku duduk. Dan tara…kakiku terasa tidak benar. Atau mungkin karena udah capek juga. Dan setelah itu, tiap kali liat tanjakan rasanya, kudu nangis…. :’’ 

Dan sejak saat itu langkahku jadi melambat, dan semakin lambat kalau ada tanjakan, apalagi turunan. Dengan semangat dan bantuan teman-teman jadinya aku terus berjalan, meskipun seringnya ditinggal, tapi gapapa yang penting nanti bisa ketemu di finish. (fikirku). Dan keinginan saat berangkat tadi kesampaian juga. meskipun aku nya juga perlu disemangatin, tapi aku bisa ngasih semangat buat pendaki yang baru mau naik dan masih jwauhhh. “Semangat Mbak, Ranukumbolonya masih jwauhh poll soalnya.” Hhhh (contoh kata-kata yang ga boleh diucapkan) meskipun jujur, tapi jangan diucapin, karena terkadang orang yang disemangatin itu hanyalah ingin disemangatin aja. Itu udah cukup, terlepas dari bohong enggaknya. Hhh, setidaknya itu yang aku rasakan.

17.00 WIB – Hai Again, Ranu Pane !

Finally, aku finish. Finishnya bukan di pole position, tapi di posisi terakhir. Thanks to Mas Cahya yang nemenin aku finish terakhir dengan segala kemampuan yang ada, hhhhahhiks. Dan diakhiri dengan makan rawon lagi, tapi kali ini gak habis, karena udah telat makannya. 

18.00 WIB – Bye, Ranu Pane !

Karena ada yang longsor jadi kudu jalan dulu menuju parkiran hardtop, becek-becekan lagi sebentar dan akhirnya bener-bener ninggalin Ranu Pane :)

Diperjalanan malam, sempet keliatan bintang-bintang sama Bulan. Sweneng. Dan karena gelap gulita, jadinya cahaya bulan berasa lampu diperjalanan, meskipun itu nggak berlangsung lama karena langit mendung dan kabut dateng lagi. Dan ku terlelap… sampai akhirnya mau sampai rumah persinggahan baru bangun, dan lalu sampai, istirahat sebentar lalu kami pulang ke Surabaya, naik motor lagi.

Eva dan Putri pamit pulang duluan, dan beruntungnya mereka rumahnya deket situ. Ehehe. Nice to meet you girls, kapan-kapan kita ketemuan lagi yaaa :3. Satu jam kemudian kami pulang, dengan keadaan perut lapar, hiks. Tapi entah karena apa jadinya gajadi makan, pada akhirnya. Hiks. Jadi kelaperan sampai nyampai rumah.


15 Agustus 2016 – 01.00 WIB – I’m Home !

Thanks buat adekku sayang, yang udah ngawal mbaknya pulang. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat, dan bukannya langsung tidur, karena pas itu Ibu lagi kebangun, jadinya ditanyain gimana-gimana. Dan lalu aku laporan perjalanan ke Ibu semacam dongengin, sampai akhirnya Ibu sadar, kalau anaknya ini kudu mandi terus tidur karena besok pagi udah harus kembali ke kehidupan nyatanya, (halah) hhh.

--

Oke, saatnya closing pemirsa. Saatnya membuat kesimpulan. Hehe.
Setiap perjalanan yang kita lakukan selalu meninggalkan cerita dan kesannya masing-masing. Meskipun ada rasa kecewa karena tidak bisa melihat Ranukumbolo seperti yang ada di instagram, tapi yang nyata nyatanya adalah Aku sudah pernah kesana, sudah bertemu dengan Ranukumbolo. Terkadang memang waktu tidak berpihak pada kita. Dan yang bisa kita lakukan adalah menerima. Rasanya memang lelah, dan bener-bener perjalanan itu serasa perjuangan mencapai tujuan. Ya berjuang memang selelah itu, dan mungkin itu cuma simulasi aja. Perjuangan yang sebenarnya mungkin jauh lebih melelahkan. Tapi belajar dari simulasi ini, kalau kita berjuang, terus berjalan menuju tujuan, suatu hari, kita pasti akan sampai tujuan. :) itu yang sedang aku pelajari :)

Oh iya tambahan, ini nggak hanya aku yang merasa, tapi si Fitri juga merasa begitu, buat kamu para jomlo yang butuh semangat, sok atuh ke gunung aja. Bakal ada banyak mas-mas ganteng (entah kenapa kemaren aku liatnya gitu, banyak yang ganteng gitu hhhh) yang bakal bilang “Semangat ya mbak” sambil senyum, suplemen sehat untuk kamu jomlo yang butuh disemangatin hahaha. Bercanda ding. Eh tapi ini beneran :D (meskipun mungkin hanya bisa ketemu seumur hidup sekali)

So, I still recommend that place for your destination :)
Semoga kamu lebih beruntung dari aku :)
Thanks for the nanonano story, Nu. :)

Jejakku sudah tertinggal disana, Kamu, kapan? :P

Sekian ceritaku dari Ranukumbolo,
Bagaimana denganmu? :)


Thanks for read, Goodreaders :)
Semoga bermanfaat meski secuil :)

- 12-15 Agustus 2016 -

Camping Ceria edisi Ranukumbolo ! (part 1)




Well, salam olahraga! Haha.
Rasanya seneng banget akhirnya punya cerita tentang tempat itu. Tempat yang udah dari lama banget pengen aku datengin karena pemandangannya yang mempesona, ditambah dengan cerita-cerita dari temen-temen yang udah pernah pergi kesana makin nambah pengen buat kesana. Ngeliat Ranukumbolo dari dekat, datang mengunjunginya.

Beruntung, pas masa kuliah gini aku punya temen yang suka nggunung. Kalau pas smk dulu aku punya temen kayak Wildan sama Kikik, di kuliah ini aku punya temen namanya Fajar. Camping guide andalan yang sering banget pamer foto kalau habis dari gunung, pokoknya bikin ngiri poll. Sampai entah rencana dari kapan itu gajadi-jadi, yang terakhir ini akhirnya, terealisasikan ! ha! (tentunya dengan segala macam proses yang rumit alias riweh hhh). Jadwal sudah ketemu, dan agar semua berjalan sesuai jadwal maka kudu ada yang nge-keep jadwal itu. ( jadi maaf ya buat Fajar dan Rangga yang dimalam kapan itu aku omelin gegara ini itu, maafkan aku huhuhu) oke lanjut.

      Oh iya gaes, sebelum kamu pergi ke Ranukumbolo ada beberapa hal yang harus kamu siapkan dari rumah. Sebenernya bisa sih dilengkapi pas di Malang, tapi kalau kamu termasuk orang yang ‘well prepare’ alangkah baik kalau persiapannya dilakukan dari rumah. Ini ada beberapa hal wajib yang kudu dibawa kalau mau ke Ranukumbolo : 
  1.  Fotocopy ktp (2lbr)
  2. Surat Keterangan Sehat (asli 1 lbr + fotocopy 1 lbr) (harus bawa yang asli) 
  3. Perlengkapan camping yang lengkap (tenda sesuai kapasitas, sleeping bag, matras, senter, nesting, kompor, gas, tali rafia dll) 
  4. Pakaian hangat. (Ini akan sangat berguna di malam hari) dan bawa pakaian seperlunya aja, yakin deh kalau bawa se-lemari gak akan kepake semua hhhe. 
  5. Sandal/sepatu yang buat mendaki (karena jalannya banyak yang licin) 
  6.  Kantong Kresek (untuk tempat sampah)
  7. Makanan/ bahan makanan secukupnya. (ini juga sangat berguna untuk masa depan) 
  8.  Untuk diperjalanan, selain cadangan minuman yang cukup, siapin juga camilan yang bisa dibuat dopping selama perjalanan panjang, kayak coklat dan madu (juga akan berguna saat kelaperan pas jalan)
  9. Uang secukupnya. 
  10.  Restu orang tua – Restu pacar (kalau punya) hhhh

Perlengkapan sudah ready semua, dan kami siap berangkat. Kalau sebelumnya aku yang ‘agak riweh’ buat preparationnya, ketika semua udah ready dan sudah hari H, saatnya aku manut sama kakak-kakak hhh. 


12 Agustus 2016 – Prepare
Kumpul dirumah Rangga yang saat itu hujan deres, ditambah mati lampu ditambah efek percikan bunga api listrik depan indomaret yang serem poll. Jadi karena mati lampu, packingnya gelap-gelapan. Dan senter bahkan udah berguna disaat seperti ini, wajib banget bawa ya. 

Oh iya skuad camping ceria episode Ranukumbolo ini ada delapan orang, dari Surabaya, ada Aku, Fajar, Fitri, Rangga, Mami, Mas Cahya. Dan dua orang temennya Fajar (yang sekarang jadi temenku juga) ada Eva dan Putri, dua cewek supel nan strong, nice to meet them :)

Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 21.30 dengan motoran. Perjalanan menuju Malang daerah Tumpang. Dipertigaan kearah Tumpang, bertemulah untuk pertama kali sama Eva dan Putri, yang udah nungguin kami disana. Singkat cerita, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Pasar Tumpang, menuju rumah orang yang menyewakan hardtop. Sampai disana kira-kira pukul 01.00 an dan kami beristirahat, tapi karena perut laper, jadi makan dulu malem-malem. Dan baru bener-bener baru tidur jam 02.30 an..

Awalnya rencana berangkat jam setengah 7, tapi karena bangunnya pada telat, dan antri ke-kamar mandi jadinya baru berangkat jam 7 pagi. Mobil baru melaju sebentar, terhentilah kami di pasar tumpang, untuk melengkapi fotocopy yang belum lengkap. Nah, untuk kamu yang lupa atau belum sempat fotocopy dan beli perlengkapan camping/masak, tenang, di pasar tumpang ada perlengkapannya, dan banyak juga pendaki yang melengkapinya disini. Terutama mereka yang datengnya jauh-jauh, dari luar provinsi dari luar pulau bahkan. Tapi kudu pagi ya, biar ke Ranu Pane nya nggak kesiangan.


13 Agustus 2016 - Perjalanan Ke Ranu Pane

Dari tumpang ke Ranu Pane perjalanannya kira-kira dua jam-an. Dan ketika sudah memasuki kawasan Bromo – Tengger – Semeru, mashaAllah pemandangannya. Bikin mata jadi berbinar, meskipun kala itu kabutnya datang dan pergi, tapi tidak mengurangi keindahannya. Dan kami berhenti disatu spot yang memungkinkan  untuk “berpelukaaann” ala tingkiwingki-dipsi-lala-poo… yaps kami berhenti di spot yang berlatar ‘Bukit Teletubies’, let’s get the shot! 

Ciwi-ciwi :D (dari kiri) Aku - Putri - Mami - Eva - Fitri

Cowo-cowo. :p (dari kiri) Mas Cahya - Rangga - Fajar

Angle foto yang disarankan, hehehehe

Angle foto yang tidak disarankan *duh hehehe

Perjalanan kami lanjutkan dengan medan yang lebih sulit, ada jalan yang nanjak banget, dan ada jalan yang rusak banget, becek juga. Jadi buat kamu yang mau ke Ranu Pane bawa motor, pastikan motormu dalam kondisi prima dan tahan banting, karena medannya sulit, dan jauh dari mana-mana. Sebenernya ada beberapa cara sampai ke Ranu Pane, bisa dengan hardtop kayak skuadku, bisa naik motor, bisa juga naik trek, banyak pilihan, bisa disesuaikan dengan kebutuhan. 


09.00 WIB - Selamat Pagi,  Ranu Pane. :)

Dengan cuaca berkabut dan agak gerimis, dan betapa girangnya aku, pas lagi ngomong, bahkan pas lagi ngeluarin nafas, keluar asapnya. (kayak di korea pas lagi winter hihi) ini entah bahagia, entah norak, tapi aku seneng banget hehe (duh gini aja seneng duh). Dan sebelum membeli tiket, setiap pendaki wajib mengikuti briefing oleh ‘saver’ disana. Briefing ini menurutku sangat penting, kita dikasih tau apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang harus dibawa, bagaimana jika terjadi ini itu, lengkap. Dan ada juga cerita tentang pendaki-pendaki yang hilang dan sebab-sebabnya (agar kita lebih hati-hati dan disiplin). Aku sendiri merasa sangat terbekali saat diceritain sama saver nya sampai ada bagian yang entah kenapa aku ngerasa sedikit terharu, pas ada kalimat “Tujuan kita bukanlah sampai di puncak, tapi pulang kerumah dengan selamat.” Dan pada saat berdoa, kita juga mendoakan ‘mereka yang gugur’ ketika mendaki :’)

Setelah briefing bakal ada pemeriksaan perlengkapan yang akan dicocokan dengan form yang sudah kita isi tadi sebelum dikumpulin. Guna pemeriksaan ini adalah agar meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. (meskipun pas hari itu, ga ada pemeriksaan, karena lagi banyak banget pendakinya) tapi Alhamdulillah, karena gak bayangin juga kalau antri pemeriksaan disaat seperti itu. Keluar dari aula briefing, beli tiket seharga Rp 17.500/hari/orang. Dan sebelum start mendaki, kami sarapan dulu. Di warung makan di Ranu Pane, ini penting juga, karena bakal butuh banyak tenaga untuk per’jalan’an ini, iya, jalan.


11.30 WIB – Perjalanan menuju Ranukumbolo

Emmm… sebenernya pas nulis ini, jadi kebayang lagi gimana capeknya hhh, tapi kudu tetep ditulis. (dan kali ini aku akan mencoba mempercepat alurnya hhh)

Sebelum berangkat jangan lupa mengecek perlengkapan dan wajib berdoa. :) dan satu lagi, sempatkan untuk berfoto didepan gapura ini..

(Pose 1) Ini senyumnya masih pada bagus-bagus hihi :p

(Pose 2) makin banyak mas-mas yang ikut ke foto

Ciwi-ciwi pendaki ceria :D hhh


Seperti arahan saat briefing tadi, kami disarankan melewati rute konvensional, yang pernah kesana pasti udah tau, kalau kita lewat jalan yang sebelah kiri. Yang belum pernah kesana, kesanalah, nanti juga tau hihi :P dan baru menit-menit awal  udah dihadapkan dengan tanjakan. Se-mangat-lah. !

Perjalanan ke Ranukumbolo ini terdapat 4 pos. Yang mana jarak antara pos 1 ke 2, 2 ke 3, 3 ke 4, itu beda-beda. Dari pos 0 ke 1 sama pos 1 ke 2 lumayan. Dari pos 2 ke 3 juauuuuhhhhhh. Dari pos 3-4 udah mulai agak nyerah. Dari pos 4 ke Ranukumbolo, tinggal menggunakan sisa tenaga. (hhh ini satuan jarak macam apa) karena aku emang nggak tau berapa jarak pastinya, tapi itulah jarak yang kurasakan…(halah).
FYI, disetiap pos itu ada penjual makanan. Dengan empat menu utama. Air mineral 600 ml (10 rb-an) Madurasa (2500an) Gorengan (2500an) Semangka potong (2500an). Dan entah kenapa, semangka disini terasa begitu enak, hhhh. Kalau kamu kesini, tak ada salahnya mencoba (kudapan) yang satu ini sembari mengatur nafas dan beristirahat sejenak. Hhhh. Dan kalau merasa harganya kok mahal, akan terjawab kalau kamu sudah kesana, kenapa kok mahal :)

Disepanjang perjalanan kita juga akan banyak berpapasan dengan pendaki yang turun, dan saling bertukar senyum, saling sapa (meskipun mungkin cuma ketemu sekali seumur hidup), dan tak jarang ngasih kata-kata penuh harapan palsu hhh, “Semangat, udah deket, dikit lagi!” padahal loh, masih jauh poll. Ya, namanya juga ngasih semangat. Dan karena itu pula, aku jadi berkeinginan kalau aku turun besok, aku yang kasih semangat buat yang baru naik, sip!

Oh iya, tips tipis-tipis buat kamu yang mendaki – usahakan, sempatkan untuk jogging dan latihan fisik mulai seminggu sebelum mendaki. Itu akan sangat berguna, nak. Jangan diremehin, karena kalau belum pemanasan nanti bakal berat banget jalannya. Aku kemarin udah coba mempraktekannya meskipun cuma lari-lari naik turun bukit deket rumah, dan cuma tiga hari hhhh, tapi lumayan daripada enggak sama sekali, itu akan berguna saat recovery badan hehe. *berasa dokter OZ* terus juga pas googling banyak tulisan yang menyarankan untuk tidak duduk saat istirahat, usahakan untuk tetap berdiri. Dan itu juga berguna, walaupun pada akhirnya pas pulangnya nanti, semua nasehat dan petuah akan diabaikan hhh.

Well, ada hal yang berhasil aku wujudkan dari angan-anganku. Yaps, jadiin album “Sky Sailing An Airplane Carried Me To Bed” sebagai backsound perjalanan pas berangkat ini, ya bayangin aja, 6 jam jalan kaki, kan sepi gitu kalau ga ada musiknya, karena ngobrol cuma bisa seperlunya, nafas udah engap, semakin keatas semakin engap, dan aku berfikir kalau aku dengerin lagu, aku bakal relax, dan berada di zona nyaman, jadi perjalanan sambil dengerin lagu-lagu ademnya adam young, and trust me, It works! Bahkan ada pendaki lain yang pake backsound dangdut-an, edm, dan yang mashaAllah, bahkan ada yang berbacksound tadarus Al-Quran :)



Dan ini ada beberapa foto ketika lagi merehatkan badan sejenak, setelah tanjakan-tanjakan yang menghadang…


Baru jalan udah ada 'Tanjakan Selamat Datang' (kemudian pada lomba lepas jaket)

POS 1

Jalan didepan POS 1

POS 2 - Kabut lumayan tebal menutupi jurang. Oh iya, disetiap pos juga sangat memungkinkan bagi para pendaki untuk bertukar cerita dengan pendaki lain, bahkan bersenda gurau, maksudnya bercanda bareng, haha. Dan di pos 2 ini Aku cukup terhibur juga denger cerita pilunya pendaki yang gagal nge-sunrise tapi masih bisa ngelawak, (padahal kan kudunya sedih ya, tapi merekanya cerita sambil ketawa gitu, ketawa ngenes sih aslinya hehe)
Ini bukan di pos manapun. Tapi pas berangkat, adegan ini sering banget dilakuin. Yaps, "Break" ! *biasanya setelah melewati tanjakan*

Take a break lagi. Kata Fajar, ini namanya 'Jembatan Cinta'. Sok atuh tambahin aja kata Cinta disemua nama-nama tempat. *ini kenapa jadi sewot hhhh* * abaikan dhani*


Orang ini bisa tidur dimana-mana hhh, bahkan aku gatau ini pas nyampe mana.

POS 3

POS 3 - Yang lain duduk, Mas Cahya tidur lagi hhh. Menurut arahan the camping guide, Fajar, di pos 3 ini gapapa 'break' lebih lama. Pertama, karena perjalanan dari pos 2 ke 3 tadi cukup jauh (meskipun berhenti-berhenti juga). Kedua, karena tepat diarah panah itu ada tanjakan super. Super nanjak! Jadi mengumpulkan segala kekuatan dulu, huha!

Setelah melewati pos 3 tiba-tiba hujan turun, dan kabut semakin tebal, jadi si Fajar ngasih komando biar kita semua pake jas hujan. Setelah sampai di pos 4 hujannya makin deres, dan entah karena faktor capek atau apa, ranukumbolo yang nyata-nyata udah ada diseberang, masih keliatan juauuuhh banget. karena kudu turun bukit dulu dan masih harus jalan yang lumayan berasa karena udah menggunakan sisa tenaga. Sempet juga menikmati hujan (sejenak) sambil merem karena emang ngantuk banget. Dan pada akhirnya, rombongan kami terpisah jadi dua. Fajar, Fitri, Eva, Putri ada didepan. Aku, Mami, Rangga, Mas Cahya ada dibelakang, karena ada insiden kram seusai nurunin bukit yang curam dan licin.




Pukul 17.30 an – Selamat Datang di Ranukumbolo 2400mdpl. :)


(Bersambung)