Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

Kepada, Yang Selalu Membawaku Pulang



Entah ini kali keberapa aku terpukau, terkagum, tersenyum mendengar
Entah ini kali keberapa aku merasa terbang, nyaman, dan seringan ini
Entah ini kali keberapa alunanmu mengantarkanku ke negriku

Seperti kerinduan yang menggebu,
Seperti itulah barangkali yang kurasakan
Rindu pulang, rindu kembali
Terbang tanpa beban, melayang layang dalam khayalan melodi
Menjadi diriku sebebas-bebasnya, tanpa takut orang lain tak menyukaiku
Merasa utuh, karena ada kamu yang mengiringiku,

Teruntuk kamu yang jauh,
Pelukis nada-nada pengantar tidurku
Mungkin kita belum pernah bertemu, bertatap muka, saling menyapa
Aku juga belum mengenalmu, kamu pun sebaliknya

Namun bolehkah aku sedikit merasa dekat denganmu? Sedikit saja.

Seperti obat penenang, seperti kereta kuda beroda dua
Terima kasih telah mengantarku untuk kesekian kali
Seperti pengingat bahwa aku harus pulang,
Terima kasih karena selalu berhasil membawaku kerumahku

Rumah berdinding embun, beratap awan serupa salju
Sejuk, teduh, tempat paling nyaman, sama seperti alunan nada-nada yang kau lukiskan
Setidaknya karenamu, aku tak perlu khawatir  lupa pulang
Iya, karena kamu selalu berhasil membawaku kembali, mengantarkanku ke negriku.
:)
* baca ini sambil mendengar lukisan nada darinya, selamat jatuh cinta pada alunannya. Selamat menikmati perjalananmu di negri paling nyaman. :)


Jumat, 07 Maret 2014

P(em)isah - Setangkai Bunga Di Sakumu


Aku sudah berulang mencari formula
Menyederhanakan rumit yang masih menggantung-gantung
Menyerah dengan segala teori yang aku sangkal
Dulu,

Sekarang aku tau kenapa ada hal yang dapat dilakukan dengan mudah, sementara bagi yang lain hal itu bisa teramat sulit
Mudah karena perasanya ringan, 
Sulit bukan karena berat, hanya karena sudah terlalu dalam

Aku hanya seorang penerka
Yang menghabiskan bergelas-gelas kotak susu untuk menemukan ujung rasa gelisahku yang tak berkesudahan

Aku melalui sebuah koridor yang membelah taman
Dari sana aku melihatmu memetik setangkai bunga yang tak pernah kau suka
Kau menghirup aroma wanginya yang sampai tempatku ini bisa tercium wanginya
"Kau berpura-pura, atau sudah berubah?", kataku dalam hati
Kemudian Kau duduk di kursi taman yang serupa dengan kayu besar yang dibelah
Setangkai bunga disakumu dan menunggu
Entah sudah berapa hari kau duduk dan aku berdiri di koridor ini melihatmu duduk
Tidak ada dinding, jarakmu dariku juga tidak terlampau jauh
Tapi kenapa aku tidak ingin menghampirimu lagi untuk yang kali ini
Kau duduk, dan tak akan berlari
Mungkin aku hanya merasa tak mengenalimu lagi
Kau duduk, dengan setangkai bunga disakumu
Menjadi pria angkuh, yang tidak semua orang bisa berdialog denganmu
Dan aku tidak menghampirimu, bukan karena keangkuhanmu
Namun dialog mana lagi yang bisa saling kita maknai?


Pemisah itu tidak selalu dinding, tidak selalu jarak
Hanya sesederhana, hati yang ingin pergi.



Selasa, 28 Januari 2014

Asing



Ada kalanya sesuatu tidak terletak pada tempatnya,

barangkali itu asing.



Aku sedang lelah membicarakan hati, muaranya saja samar

Aku sedang tidak ingin bertikai dengan cerita yang berputar putar mengulang, bosan terkadang datang tanpa ditunggui

Aku sedang berusaha mencintai ketidakpastian, tapi bagaimana mungkin, sedangkan mencium aromanya saja aku alergi


Ada kalanya kita tidak merasa nyaman, itu pasti asing.


Barangkali berada ditempat yang segalanya baru itu butuh waktu

Barangkali memulai segalanya yang baru itu butuh diajari dulu

Barangkali segalanya yang baru itu disesuaikan pelan-pelan



Aku hanya merasa tidak pas ada di ruangku saat ini

Lapang, tapi tak seorangpun ku ijinkan masuk

Sejuk, tapi aku ingin menikmati sejuknya sendirian

Tanpa warna, namun aku mulai mencintai abu-abu




Padahal dulu ruangku sempit, tapi sanggup ku bagi

Sesak, tapi celah udaranya menghidupkan

Warna warni, dan aku menyukainya


Namun inilah hidup, waktu berjalan, bumi berputar

Daun berguguran, benteng runtuh, manusia- manusia berubah


Kini, aku adalah asing dari diriku sendiri

Bukan untuk menjadi seperti orang lain

Tapi terkadang untuk jadi pemberani, kita harus merasa terasingkan bukan?

Barangkali nyaman, membuat seseorang begitu manja



Aku tetaplah aku,

Bila aku terasa asing untukmu,

Maka ingatlah ini, Aku tetaplah aku, untukmu.

Jumat, 13 Desember 2013

Soekarno, Di Film Soekarno


"Hormatilah musuh- musuhmu, karena dia tau kelemahan-kelemahanmu." - Film Soekarno



- Bumi, 12 Desember 2013 – Royal Plaza – hujan dan jalanan padat...


Let me see, film kedua movie marathon film Indonesia bulan desember 2013. Yups, setelah minggu lalu nonton ’99 Cahaya Di Langit Eropa’, minggu kedua desember ini, giliran film ‘Soekarno : Indonesia Merdeka’ yang jadi film of the week, hehe. Nonton film ini dengan partner yang sama, Wiwid. Hehe, sepertinya kami punya selera yang hampir sama haha. 

Okey, aku tidak menyebut ini resensi, review atau semacamnya. Hanya ingin menceritakan kesan dan pertanyaan-pertanyaan yang mesti aja muncul pas nonton film ini. Buat kamu yang belum nonton, tak ada salahnya membaca, buat kamu yang sudah nonton, bisa sharing bareng :D

Film ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’ disutradarai Hanung Bramantyo, sutradara yang karyanya tidak pernah biasa biasa saja. Tidak biasa, karena dia berani mengambil tema dan cerita atau issue masyarakat yang ‘sensitif’ ‘immortal’ dan kawan kawan. Banyak juga yang mengatakan dia adalah sutradaranya film-film ‘kontroversial’. Tapi entahlah, aku tidak pernah menyebutnya seperti itu, justru sebaliknya, dia sangat keren bukan? Membuat orang-orang awam dan mungkin naif sepertiku menjadi tau tentang hal-hal. Hal-hal yang ‘tak tersentuh’ tadi, bisa disuguhkan Hanung dengan begitu manis alur ceritanya. Dan karya-karya filmnya menunjukan bahwa dia mempunyai pemikiran yang luar biasa. Luar biasa luasnya. Dan selain sebagai sutradara, dia juga menjadi penulis naskah disetiap film buatannya, dia keren.

Nggak pernah nyangka, kalau pembukaan film ini bakalan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Iya, jadi di screennya ada aba abanya buat nyanyi lagu Indonesia Raya sambil berdiri, didalem bioskop. Ini serius. It was so suprising. Masih inget kapan terakhir kali kamu menyanyikan lagu Indonesia Raya? Pasti saat upacara bendera. Dan kali ini kamu menyanyikannya di dalem gedung bioskop, ada perasaan senang dan haru, first impression film ini pasti bakal ‘keren’ kalau openingnya aja kayak gini. Sempet terfikir buat dokumentasiin moment ini sama kamera hape. (norak banget ga sih? -__-) dan aku mengurungkan niatku karena aku fikir, orang-orang harus merasakan ini sendiri secara langsung, bukan sekedar lewat foto-foto di instagram yang berhastag #FilmSoekarno ahaha, bercanda :D

Awal film diceritakan tentang masa kecil Soekarno yang diperankan sama Emir, itu loh yang dulu main di film Garuda Di Dadaku 1 & 2. Dulunya ternyata namanya Kusno, yang kemudian karena dia sering sakit sakitan akhirnya namanya jadi Soekarno. Tentang Soekarno muda yang jatuh cinta sama noni belanda, belajar pidato, belajar dari Cokroaminoto. Dan yang bikin kaget adalah pemeran bapaknya Soekarno adalah Presiden Republik #Jancukers yang minggu lalu aku ceritakan itu Readers. Mbah ‘Sudjiwo Tejo’(emmm, sebenernya dia belum embah-embah sih hehe, tapi dia sering dipanggil mbah). Cukup mewakili ‘jawa’ nya itu. Iya, Soekarno itu orang jawa.
Di film ini juga diceritakan bagaimana Soekarno bisa mengambil hati rakyat, tentang jaman pendudukan belanda dan jepang, tentang dia yang dipenjara, tentang… okey, pause. Ini cerita apa, aku bukan mau nulis resensi, jadi lebih jelasnya liat filmnya sendiri ya Readers, hehe.

Aku juga masih terkesan dengan beberapa tokoh yang selama ini aku baca di buku sejarahku dari SD-SMK bahkan ada juga yang terlewatkan. Misal, Ibu Inggit, istri kedua Soekarno. (Hah istri kedua? Istri pertamanya siapa coba? *wusshh) Dia cukup membuatku terkesan, istri yang kuat dan tangguh. Namun, ya mereka akhirnya bercerai karena Inggit tidak mau dimadu. Padahal selama ini, aku selalu menganggap bahwa Ibu Fatmawati adalah istri pertamanya. *setidaknya film ini meluruskan anggapan salahku, and it’s cool right?*. Ada juga Moh. Hatta, yang pintar dan ahli bahasa, bijaksana dan penengah. Dia, ehem sekali kan? Iya, dia salah satu bapak proklamator kita. Satu lagi, ada Sutan Syahrir, si muda yang bergelora, menggebu-nggebu, jiwa muda, dan kritis. Pemuda yang kelihatannya keras kepala tapi punya tujuan yang sama, ingin Indonesia merdeka.  Dan peran Soekarno sendiri (yang diperankan Ario Bayu), yang, emmm ya, kharismatik dan okey, dibalik kehebatannya, beliau adalah manusia biasa, yang yaa, tidak pernah lepas dari seorang wanita. (Walaupun banyak yang bilang kalau Soekarno lebih ganteng dari Ario Bayu, jadi gimana menurutmu kecenya presiden pertama kita dulu Readers? hehe). Jadi inget pepatah cina mengatakan “Dibalik lelaki hebat, pasti ada wanita yang hebat pula.” entah pepatah itu dari cina atau bukan :| tapi aku setuju, pepatah ini ditujukan untuk Ibu Inggit, yang berada dimasa masa tersulit Soekarno.

Terlepas dari kisahnya. Uhm, ijinkan aku memberi applause untuk divisi musik film ini. Mulai dari penata suara, music scorer, arranger, dan singernya, semuanya nge-blend. Menyatu banget sama filmnya. Dijamin, kamu nggak bakal bosen denger backsound film ini, mengalir, dan mendukung keutuhan film ini banget. Mulai dari musik nuansa belanda, lalu nuansa jawa, yang kemudian jadi ke-jepang jepang-an, berganti betawi, dan parade orchestra klasik (musik dewa kalau aku sering menyebutnya) lagu nasional Indonesia semuanya ada. Dan dari sini aku juga kembali sadar. Bangsa Indonesia itu bangsa yang ‘musikal’, bener, kayak kata Ahmad Dhani di Indonesian Idol dulu. Di film ini, jangan ditanya arransement musik lagu ‘Indonesia Pusaka’ dan ‘Syukur’ yang dinyanyiin Rossa itu sekeren apa, keren dan ‘dewa’ banget. Sampai aku terharu sendiri, musiknya bisa jadi se-klasik itu. Tapi bukan itu, justru yang membuatnya bisa begitu bagus dan megah adalah memang mentahannya. Mentahan lagunya memang sudah luar biasa, susunan nada dan kord yang tidak biasa. Dan itu sudah diciptakan berpuluh puluh tahun lalu, namun abadi sampai sekarang dan seterusnya. Dan FYI, lagu kebangsaan kita, ‘Indonesia Raya’ ciptaan WR Supratman, juga merupakan salah satu lagu kebangsaan terbaik didunia. I’m proud all of you hero, you’re always cool. Dan satu lagi, lagu ini ada soundtracknya, yang dinyanyiin Afgan, judulnya Wanita. Yang diletak-in di belakang pas credit title, cukup bijak menurutku. Karena suara Rossa menyanyikan kedua lagu tadi sudah sangat cukup mewakili filmnya. Emmm, sadar atau enggak, backsound dibagian sepertiga akhir film ini, adalah lagu-lagu nasional yang disusun sedemikian rupa, bisa jadi backsound yang indah dan memanjakan telinga. *Okey, sebelum kamu bosan denger penjelasanku tentang divisi ini yang kelewat antusias, marilah kita akhiri saja* --

Well guys, terlepas dari semua berita kontroversial film ini diluar sana, aku yakin dan kamu pasti setuju, bahwa film ini media mengingat dan belajar tentang sejarah merdekanya negara ini, dan menontonnya dalam sebuah film itu menyenangkan bukan? Apalagi untuk yang malas membaca, ini bisa jadi alternatif. Menurutku, meskipun disini juga diceritakan tentang sisi lain Soekarno (yang membuktikan bahwa beliau juga manusia biasa) tidak akan mengurangi rasa cinta kita terhadapnya. Justru sebaliknya, disini kita jadi tau perjuangan dan pengorbanan beliau. Bagaimana rasa nasionalisme anak muda jaman sekarang bisa tumbuh, kalau pengenalan dasarnya kurang? Film bisa jadi media ‘terkeren’ bagi mereka yang muda dan kurang peduli untuk memulai nasionalismenya. Buat anak muda negeri ini mencintai negerinya, kalau sudah cinta, mereka pasti akan melakukan apa saja untuk memajukan negerinya, bukan begitu Readers? :)

Hmmm, semoga tulisan ini bermanfaat buatmu ya Readers. Dan sekarang aku lagi mempersiapkan diri untuk movie marathon minggu ke 3. Ehehe, semoga makin banyak temen nonton biar rame juga :D
Besok mau camping, doain aku bawa banyak oleh oleh buat kamu ya Readers :)
*pelukciumsatusatu*


“Jika kita bukan pemimpin yang baik, biarlah sejarah yang membersihkan nama kita” – Soekarno
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri" – Soekarno

Kalau baca kutipan-kutipan itu, masih yakin bisa menghindari kharismanya Soekarno? Think again. :)

Nah ini Readers, 'Indonesia Pusaka' versi Rossa :)



Kalau yang ini, 'Syukur' versi Rossa :)



Jumat, 06 Desember 2013

Cahaya di Jumat Malam




- Bumi, 6 Desember 2013 - Royal, cuaca cerah ceria…



Seperti cuaca hari ini, yang cerah ceria, begitupun hatiku *halah*. Ehehe, okey well hari ini aku punya jadwal dating nonton. Yeiy, aku dapet temen nonton!! (maksudku, susah banget cari temen yang punya selera dan ketertarikan yang sama buat nonton film). Dan hari ini aku ditemenin sahabat dan temen sebangku pas SMK, Wiwid. Harusnya kemarin sih nontonnya, tapi karena suatu hal, jadi ditunda hari ini.



Sampai Royal jam 5 sore. Karena Wiwid baru bisa jam 7 an, ya akhirnya aku menunggunya. Weitss jangan salah. Aku tau betul aku akan menunggu dengan menyenangkan. Cuma dua jam, apalah artinya kalau dihabiskan di gramedia. Hehe. Seperti biasa, setelah ngabsen satu-satu buku baru dan baca sinopsisnya, aku tertarik buat baca bukunya Sudjiwo Tejo yang udah jadi selebtwit gegara Republik #Jancukers yang dia buat. Bukunya seru, aliran ceritanya deres, menggelitik, kritikan cerdas, dan  seenggaknya bisa bikin aku betah baca kurang lebih 60an halamannya sampai tibalah waktunya perutku pada ansambling an minta makan. Okey, aku laper. Dan emang paling nggak asiknya jalan sendirian adalah nggak ada yang jadi alarm makan, apalagi kalau udah keasyikan sama sesuatu, semuamuanya lupa. Akhirnya beli donat kesukaan, dan datanglah si Wiwid.



Sesuai jadwal dating, *ceilah* hari ini aku nonton film “99 Cahaya Di Langit Eropa”. Film yang bikin aku penasaran setelah liat trailernya. Emmm, seperti biasa, aku akan memberikan sedikit ulasan film ini. Tapi ingat, aku ini penikmat film, bukan pengamat film. Jadi biarkanlah aku mengulas film ini dari sudut pandangku. Dan tenanglah, aku tidak begitu suka mengkritik. Aku penikmat, bukan pengamat. Aku awam, bukan kritikus, emm anggap saja begitu. Hehe. Let’s see..


Film 99 Cahaya di Langit Eropa ini adalah sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama. Yang menceritakan perjalanan Rangga dan Hanum di Eropa. Hanum menemani Rangga yang menyelesaikan pendidikan S3 nya di Wina, Austria. Sambil mengisi waktu luang, Hanum mengikuti kursus bahasa Jerman, dan mempertemukannya dengan Fatma Pasha. Dan dari situlah perjalanan Hanum mempelajari islam di Eropa dimulai… (untuk lebih jelasnya silahkan menonton dibioskop kesayangan anda ya >> ceritanya ini teaser ehehe) Okey, lanjut.


Satu. Dari judulnya, udah sedikit terlihat kalau film ini, bernuansa islami. Iya, karena ada 99 nya, mewakili 99 asmaul husna. Dan ada perasaan senang, ketika masuk, studionya hampir penuh. Tanda kalau promosinya gencar dan berhasil, eiitss maksudku tanda kalau filmnya bagus. Dan ya, mayoritas yang nonton film ini anak anak berkerudung, tentu saja kecuali yang laki-laki, walaupun aku sangat merekomendasikan juga film ini untuk mereka yang non muslim. Ini bagian dari sejarah, dan mereka harus tau.


Dua. Maka, abaikan saja tehnik atau apalah yang semacamnya. Aku terlalu menikmati gambar dan settingnya yang subhanallah kerennya. Memanjakan mata penonton banget. Pemainnya keren, lokasinya keren, dan nilai historis setiap tempat juga keren. Di film ini aku dapet banyak ilmu sejarah baru, yang banyak belum aku tau. Padahal cukup berhasil membuat hati tergetar, setidaknya tadi pas aku lihat film ini.

Tiga. Aku ucapkan ‘asem’ untuk penulis naskah film ini. Nyaris tanpa celah. Dialog-dialognya itu terasa ‘penting’ semua. Padat dan punya kesinambungan terus dengan cerita setelahnya. Ada beberapa dialog yang masih nempel disini, karena tadi terasa jleb banget di hati. “Kalau kamu punya masalah besar, katakan pada masalah besarmu, Hei masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar”- Aysee. 


Empat. Aku sempat beberapa kali terharu dan nangis, *ah dasar mellow*. Film ini bikin banyak pertanyaan besar dikepalaku untuk diriku sendiri. Aku sampai seperti merasa menjadi seperti Hanum, Aku mengaku muslim tapi belum teguh menutup auratku, belum berhijab. Ini pernyataan klise dan mungkin terlalu banyak alasan dan alibi menjelaskannya. Aku tau dan barangkali aku terlalu naïf tentang ini. Tapi yang jelas, film ini memberikan pandangan lain untukku tentang berhijab. Aku selalu merasa lebih teduh ketika menggunakannya, aku tau, barangkali tidak butuh banyak alasan untuk menjelaskan ini, tapi aku tidak mau ketika nanti keputusanku ini dipertanyakan, aku tidak berhasil menjawab keresahan mereka. Doakan aku ya Readers, semoga aku bisa seperti Fatma, setidaknya keteguhan dan keteduhannya. Dan sempat terfikir dikepalaku, ‘Apa orang-orang yang tidak berhijab harus terkena kanker dulu seperti Aysee, kemudian rambut menjadi rontok, lalu tak berambut dan akhirnya berhijab untuk menutupinya?’ Astaghfirullah. Aku ini mikir apa :( Tentu saja ini bukan doa ya Allah, selalu jaga dan lindungi aku, peluk aku, bimbing aku, ajari aku selalu :’)



Lima. Untuk yang kali ini, ijinkan aku melewati film ini tanpa soundtrack. Music scoring film ini menurutku udah pas banget dan mendukung adegan dan gambar gambar di film ini. Tapi I’m sorry to say, not for this soundtrack. Sebelumnya aku minta maaf buat postingan soundcloudku di lagu ‘Dia Dia Dia’ nya Fatin yang disitu aku tulis, soundtracknya dari film ini. (barangkali ada diantara kamu yang ngikutin soundcloudku, ehehe -___-) sepertinya aku salah ngasih creditnya. Di film ini memang ada Fatin, tapi nggak nyanyi lagu itu, dan bukan bermaksud mengkritik, tapi semua lagu yang ngiringin filmnya itu keliatan eh kedengeran banget cuma nempel difilmnya, harusnya nge-blend. Iya, cuma nempel dan gak berasa, gak menyatu. Kata Om Hanung, memang ada film-film yang terlihat memaksakan diberi soundtrack, sehingga hanya jadi tempelan saja..Entah maaf kalau mungkin subyektif, mungkin akan lain jadinya kalau soundtracknya digarap Melly Goeslow – Anto Hoed, mereka master of soundtracknya. Bahkan BCL sama Acha yang bisa dibilang tidak terlalu istimewa saat bernyanyi bisa terlihat begitu istimewa saat membawakan soundtrack di film mereka, tentu saja dengan sentuhan Melly Goeslow. Sedangkan yang ini, Fatin, siapa yang nyangkal fansnya Fatin banyak? Siapa yang nyangkal kalau suaranya bagus? Siapa yang nyangkal kalau dia punya faktor X yang gabisa dijelasin? Tapi beneran, menurutku, film ini akan lebih bagus kalau nggak ada Fatin-nya. Ini bukan berarti aku nggak suka Fatin, aku hanya sedang ingin menikmati film ini secara utuh. Selain soundtracknya yang ada suara Fatin-nya yang nggak nyatu sama gambar yang jujur aja pas tadi tiba-tiba suara Fatin muncul, jadi kayak nonton sinetron di Indosiar -__-,ini menurutku, tanpa bermaksud apapun, dan ditambah lagi adegan terakhir yang ada Fatin-nya itu juga terlihat banget terlalu memaksakan. Dan gak nyatu sama cerita filmnya, sayang. "Wid, kenalin, the next generationnya Melly Goeslow.." kataku. "Prince-mu siapa Dhan? Kalau kamu Melly Goeslow, Anto Hoedmu siapa?" celetuknya. Seketika hening. Ya, mungkin aku akan mencarinya, atau yang dia akan menemukanku. Ehehe.


But over all, film ini masih aku rekomendasiin buat ditonton. Dan Indonesia, bersiaplah dengan film-film selanjutnya di bulan Desember. Next film marathon ada film Soekarno, Tenggelamnya Kapal Van Weirck, Endensor yang sayang banget buat dilewatkan. Dan selalu muncul pertanyaan, kenapa film Indonesia yang bagus bagus tayangnya numpuk di bulan Desember semua ya? Hmmm, entahlah, mungkin Pak Produser bisa menjawab? Silahkan tinggalkan komentar dikolom bawah ini ya. (barangkali ada Goodreaders yang jadi Produser, hehe)



Dan setidaknya, aku selalu mendapat sebuah energi baru setelah menonton film. Positif, mengalir deras. Mungkin itulah sebabnya ada yang bilang, “Film adalah media tercepat mengadakan perubahan”. Baiklah, semoga berhasil dengan proyek itu. "Dan sebelum itu, buatlah ‘mereka’ mau dan sudi meluangkan waktunya untuk sekedar menonton film, yang ‘katamu’ bisa merubah kehidupan, pandangan, dan mimpi ‘mereka’. Karena sekali lagi, membuat orang lain percaya itu tak semudah duduk menonton film." #RSF


"But you have to know, in every steps you walk on, there always me who stand to support you, anywhere, wherever you do."





Minggu, 20 Oktober 2013

Gadis Yang Menunggu :')





Ada seorang gadis, yang bisanya cuma menunggu
Di balik pintu rumahnya, hanya diam
Takut melangkah, karena takut terjatuh
Dan dia, sendirian

Padahal dia tak pernah tau
Apa yang ditunggunya akan datang atau tidak
Dia terus menunggu
Di dalam keresahan, dia berfikir
Mungkin yang dilakukannya selama ini itu akan sia sia
Entahlah, dia tidak pernah tau

Lalu dia memberanikan diri untuk pergi
Di luar dia merasakan hujan, lalu melihat pelangi
Malamnya ada bulan, ada bintang
Dia sadar, selama ini ternyata dia tidak pernah sendirian
Ada mereka, yang selalu menemani hari harinya

Keesokan harinya, dia berjalan berkeliling taman
Menikmati hari kebebasannya
Dan berharap, akan ada seseorang yang menyapanya
Dia tersenyum, walaupun senyumannya hampa

Dia terus berjalan, dan, dia melihatnya
Satu senyum yang berhasil mengisi kehampaan senyumannya
Dari situ dia sadar bahwa dia memang tidak seharusnya menunggu
Karena dia bisa, menemukannya..

Dari kisah itu, ada satu hal yang penting
Bahwa ketakutan tidak akan membawa kebebasan untuk kita
Dan menunggu, tidak akan membuat kita menemukan sesuatu yang kita cari

Dan ada beberapa hal yang harus kita pahami bahwa,
"Tuhan, tidak akan pernah membiarkan kita sendirian.."

:') 



The End -






Selasa, 01 Oktober 2013

Menembus Batas




Hey perkenalkan, Aku gadis di dalam kotak kaca. Sering melihat lalu lalangmu dari balik sini. Tanpa terlihat yang lain, karena pantulan sinar matahari membuat mata mata itu silau duluan. Aku gadis dalam kotak kaca berbentuk kubus dengan sudut sudut yang sama, tanpa celah, tanpa celah sedikitpun. Sedikitpun saja tak ada celah.

Aku sering melihatimu lalu lalang. Dengan langkah kakimu yang setengah berlari, kesana kemari. Bebas, tanpa batas, dan tanpa sekat sekat. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu. Aku terlalu sibuk mengamatimu setiap kau lewat. Iya, kita sama sama sibuk. Kamu didunia tanpa batas, Aku didunia dengan sekat sekat, didalam sebuah kotak kaca.

Kehidupanku tak akan lebih luas dari kubus kaca ini. Bahkan hanya bisa melihat tanpa menyentuhmu. Hanya bisa mengulurkan tangan sebatas kaca tanpa benar benar bisa menggapaimu. Aku muak hidup dengan sekat sekat ini. Aku ingin kearahmu biasa berjalan. Ke tempat biasa kau berlalu lalang. Aku ingin kau melihatku.
Lihat kearahku esok hari. Aku sudah menyiapkan rencana ini dari dulu. Bantu Aku keluar dari sini, menembus segala batas untuk sekedar menyapamu. Dari luar sana, kumpulkan energi petir saat badai esok hari. Pecahkan kotak kacaku ini, kumohon bantu aku. Aku ingin menembus batas ini, memecahkan segala sekat dan ketakutanku. Aku ingin menembus batasku, berkenalan dengan duniamu, tanpa sekat sekat, tanpa batas. Aku ingin berlari jauh, bukan hanya berputar putar dalam kotakku ini.

“Petirnya sudah siap, Putri..” –