Rabu, 26 Maret 2014

Utara




Utara.

Arah yang menjadi sebuah simbol untuk mengungkapkan apa yang ada didalam, bisa hati, bisa fikiran. Utara. Iya, kali ini aku ingin mengutarakannya. Bukan ke barat, timur, apalagi selatan. 

Terlepas dari apa yang sedang terjadi, mungkin kali ini kau sedang ingin menjadi seorang yang menyebalkan. Menebar perangai dimana-mana. Sama seperti yang kau lakukan kepadaku, barangkali yang kali ini hanya bagian dari cerita fiktif yang kau buat. Kau menggerakan orang-orang untuk menjadi pemeran dari peran-peran yang kau inginkan, dengan cerita yang kau kendalikan. Hei, ini hidup nyata. Letakkan fiksimu pada tempatnya ya. Tidak semua orang punya ‘kegilaan’ yang sama. Dan dikehidupan nyata, perasaan itu naluriah, bukan akting. Dan memainkan perasaan naluriah itu tidak baik untuk kesehatan. Tidak baik, untuk mereka yang kurang ‘gila’ atau bahkan waras sama sekali.

Sedangkan Aku. Aku adalah pemeran utama dari ceritaku sendiri. Kalaupun aku sedang ‘gila’ aku tidak akan mengikutsertakan orang lain dalam kegilaan yang sama denganku. Mereka berhak atas peran utama mereka sendiri-sendiri. Tanpa dikendalikan apalagi diskenariokan. Itu jahat. Banyak orang yang sedang menitipkan percayanya kepadamu, padahal kau hanya memainkan ceritamu saja. Jahat bukan? Tapi aku yakin, didalam ceritamu, masih kamu pemeran protagonisnya. Atau mungkin kamu ingin terlihat jahat karena sedang bermain peran antagonis dalam ceritamu sendiri. Terkadang, kamu terlalu rumit untuk dijelaskan jika ‘gila’ mu meluap. Berlaku seenaknya sendiri, padahal harusnya menjaga perasaan-perasaan. Kau bukan pemeran tunggal. Ingat, banyak peran pararel dibelakangmu. Sehingga jika kau dengan tiba-tiba merubah jalan ceritanya, peran pararel juga ikut berubah jalan ceritanya.
Aku tidak bisa rute cerita lebih jauh dari ini.  Yang aku tau, aku hanya perlu menulis agar mudah kau mengerti, dengan cara paling sederhana. Bukan sepertimu, yang membuat semuanya menjadi rumit. Barangkali, Ilmuwan terlahir untuk membuat segala apa yang ada di semesta yang rumit ini menjadi sederhana. Iya, itu ilmu pengetahuan. Ilmu yang sebenarnya rumit, tapi berkat mereka bisa menjadi lebih sederhana agar bisa kita pelajari. Bukan sebaliknya. 

Mungkin ini tidak senaratif penjelasanmu dengan nomor-nomor. Bahkan mungkin ini berantakan. Aku tidak terlalu pandai menulis sepertimu. Kau ‘me-reka’ sejarah untuk masa depan nanti, sedangkan aku hanya‘merekam’ sejarahku saat ini. Tidak ada yang ku buat-buat. Mungkin itulah yang membuatku semudah itu tertebak.
Disini hanya itu yang ingin ku utarakan. Karena selebihnya aku memaklumi ‘kegilaan’mu yang pernah lama ku kenali, dulu, dulu sekali. Aku hanya ingin sistem yang kau bilang itu berjalan sinergis. Bukan membuat semuanya terasa asing dan tidak saling menyamankan. Ganjil, dan segalanya seperti tidak terletak pada tempatnya.

Kamu tenang saja, ini rumah keduaku. Hanya mereka yang ku izinkan masuk yang bisa membaca ini. Aku bukan provokator, atau ‘mereka yang kau sebut suka membuat cerita tanpa arti’. Baca lagi yang kau narasikan untukku, ya. Letakkan fiksimu pada tempatnya. :’)

Ini kunamai semacam balasan surat. Teruntuk kamu yang mengataiku surealis. -


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share yukk :))