Jumat, 07 Maret 2014

Part 2 !




6 Maret 2014 - Ciputra World, Surabaya Barat, sore menjelang petang..

Tepat hari ini, film 99 Cahaya Di Langit Eropa part 2 diputar serentak di seluruh bioskop Indonesia. Nunggu tiga bulan, dan akhirnya tayang juga yang part 2 nya. Oh ya seperti biasa, patner nontonku adalah sahabat tersayang, Wiwid, dan hari ini ditambah sama Mbak Sissy (kakak kelasku pas smk dulu hehe). Kalau biasanya aku rajin nonton di royal kali ini aku diajak buat nonton di ciputra world (ceilah, berasa naik kelas, ahahaha bercanda) sebenernya sama aja kok sama XXI yang lainnya, tapi jujur aku akui kalau sound disini lebih ‘mantep’. Ehehe. Film ini adalah film kedua dibulan ini yang aku tonton, dua hari lalu aku nonton ‘Street Society’ film balapan mobil bikinan sineas dalam negeri. Sengaja nggak aku tulis reviewnya, karena aku nggak begitu paham sama film balapan gitu. Tapi kalau dari segi ceritanya, lumayan lah film itu, ada bagian yang cukup bikin ‘shocking’ dan aku bisa ngena juga. Namun selebihnya, jujur aku ngerasa film itu kayak iklan mobil lambhorgini, McLaren dkk.. karena mungkin nggak ada adegan tabrak-tabrakan mobil atau mobilnya kebakaran atau yang semacam itulah, jadi cuma balapan aja. <> back to 99 cahaya, let’s read my little review..eits mungkin lebih tepatnya review ala dhani..ehehe bercanda :D

Di part yang kedua ini, cerita filmnya terasa mulai dalam. Kalau yang di part 1 nya, kita lebih seperti diajak berwisata sejarah islam di eropa, di part 2 ini lebih ke konflik dan penguatan karakter para tokohnya. Dan nggak lupa, pesan moral yang ada di part 2 ini aku ngerasa lebih banyak. Sama seperti di part 1, yang kedua ini nggak kalah bikin nangis. Nangis karena terharu, karena sedih, karena ngerasa masih banyak kekurangan, campur aduk jadi satu. Dan di part 2 ini akan terlihat betapa kuatnya masing-masing karakter di film ini. Mulai dari Hanum dan Rangga, Khan, Stephan, Marjaa, bahkan Fatma dan Aysee. Semua punya peran penting di film ini. Cukup terkesan dengan Ayah Khan, yang ingin anaknya berjihad dengan pena dan ilmunya, bukan dengan bom dan ranjau ranjau seperti di negerinya, Pakistan. Maka dari itu dia ingin anaknya menuntut ilmu setinggi mungkin di negeri orang, dan sekembalinya nanti, bisa memperbaiki negerinya. Juga suka dengan peran Stephan, seorang atheis yang punya rasa ingin tau yang tinggi tentang islam. Khan yang cenderung fanatik, dan memegang teguh prinsip keislamannya. Marjaa yang pintar dan cantik, tapi tidak menghalalkan segala cara untuk mendekati Rangga. Fatma, seorang ibu luar biasa yang nge-guide si hanum jadi agen muslim di eropa. Dan Aysee, anak perempuan Fatma yang menggertak hati hanum untuk berhijab, mungkin nggak hanya hanum, semua orang yang belum berhijab kalau lihat film ini pas scene nya Aysee, pasti tergertak juga, termasuk aku. :’) Semoga … :’)

Nonton film ini udah berasa jalan-jalan ke eropa beneran. Tempat-tempat yang ‘view’ nya bagus di setiap negara yang dikunjungi nggak terlewat sedikitpun. Dan kalau dari segi backsound (mesti aja ahaha) yang kedua ini musiknya klasik banget. Eropa banget. Berasa banget eropanya, jadi kesannya megah. Dan bener aja, di part 2 ini nggak ada ‘lagu/soundtrack’ yang maksa diselipin di filmnya, walhasil filmnya jadi lebih nyaman ditonton, karena porsinya pas. Dan nggak aneh kayak yang part 1 (dari segi nyelipin soundtracknya). Cukup bijak meletakan soundtracknya di akhir film. Emmm sebenernya ada beberapa ‘kekurangan’ atau mungkin lebih tepatnya ‘kesalahan teknis’ di part 2 ini. Pertama, pas adegan di Mesqitta, Acha keliatan banget kalau dubbing, dan dialognya nggak sama, dan keliatan banget. (yang awam pasti juga tau kalau yang ini). Kedua, pas adegan dibalkon setelah pesta kebanggaan kota Vienna undangan professor Reinthard. Marjaa menghampiri Rangga, dan keliatan clip on-nya Marjaa di punggungnya. (kalau yang ini entahlah ada yang sadar atau enggak) tapi kalau aku, jelas banget ngeliatnya. Ketiga, pas adegan Acha diusir satpam saat di Mesqitta, keliatan ‘Chroma key’ nya. Kalau yang ini mungkin lebih ke masalah perijinannya dan peraturannya.

Well sepertinya, nggak begitu masalah sih sedikit kekurangannya tadi, tidak ada film yang sempurna. Lagian udah ketutup juga sama ceritanya yang bagus. Sampai kefikiran gini, beruntung banget ya Hanum Rais sama Rangga Almahendra bisa punya cerita se-luar biasa itu. Punya teman-teman yang hebat juga. Yang jelas cerita ini mahal, dan mereka beruntung karena mereka yang punya. Dan sampai sekarang masih nggak percaya kalau cerita film itu berdasarkan cerita nyata. Keren :’)
--
Dan setelah nonton pun kami pulang, aku pulang duluan karena udah malem dan rumahku jauh. Wiwid sama Mbak Sissy masih mampir ke hypermart dulu. Dan karena aku baru pertama kalinya kesini, jadi aku minta dianterin ke parkiran dulu. Turun lewat eskalator yang berbeda dengan yang dateng kesini tadi. Dan aku nggak menyadari ada sesuatu hal yang aku lewatkan. Sesampainya dibawah..

“Eh Wid, kita kok nggak turun lagi?”
“Loh kita udah di lantai bawah ini..”
“Perasaan tadi kita naik empat kali deh, kok turunnya sekali doang?”
“Dhan, kita tadi naik eskalator terpanjang itu loh yang langsung ke lantai 4, kamu tadi nggak ngerasa lama banget ta?”
“What? Kenapa tadi kamu nggak bilang? Aku kan pengen menikmati eskalator terpanjangnya ahaha, ayo balik lagi Wid!”

Dan untung aja, hal bodoh itu tidak dilakukan ahaha. Jadi tadi pas naik eskalator itu, aku keasyikan cerita sama Wiwid, jadi ya ngerasa biasa aja. Eskalator terpanjangnya, berasa biasa aja deh ahaha. Maaf nge-share cerita yang ini, (cerita nggak penting ya ehehe) tapi ya biar kamu nggak kayak aku aja, yang hari ini keliatan ‘ndeso’ banget. Ehehe, gapapa deh. Kalau nggak gitu kan nggak tau :p pertama kalinya kesitu juga, karena baru pertama kalinya juga ada yang ngajakin kesitu. 


Thanks for read, Good Readers :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share yukk :))