Seperti mata kamera yang menangkapmu, Aku mencoba melihatmu secara long shot bahkan extreme long shot. Agar segalanya lebih terlihat luas, apa yang ada disekitarmu, disekelilingmu dan apa yang sedang kau perhatikan. Dari sedekat close up senyummu nampak untukku, namun tidak dari sisi ini. Senyummu kulihat lebih luas jangkauannya.Aku masih melihatmu dari sini, untuk memastikan beberapa hal lagi yang menjadi tanya-tanyaku. Apakah yang kulihat hanya kebenaran yang maya? Atau peka inderaku yang tak terasah tajam? atau hanyalah kejadian salah menduga? Walau terkadang Aku ingin menyimpan senyummu dengan mem-freeze-nya, tapi apa jadinya ketika setelah itu nyatanya arah senyummu itu bukan untukku. Beku.Dari jauh, Aku tau apa yang sebelumnya belum ku tau. Dari letak yang berjarak, kini Aku tau apa yang sebenarnya sedang kulakukan.Mencarimu.Dari sisi frame mana kau muncul, entah hanya lewat atau sekedar berdialog tegur sapa. Sudah. Kucukupkan merekammu dari sini, jika kurasa aku telah cukup mengerti, mungkin yang selanjutnya adalah cut.
Rabu, 16 September 2015
Dari Jauh
Senin, 14 September 2015
Aku ingin menyelinap didalam mimpimu, yang pelan-pelan ku masuki tanpa kau tau. Apa kau sudah tau tempat persembunyianku? Aku tidak yakin bisa terus bersembunyi, menyembunyikanya. Aku hanya berdoa agar ketika Aku tertangkap nanti, Kau adalah satu-satunya yang paling mengerti semua ini sebelum semua. Agar ku tak malu mengaku, karena Kau mengakuiku.
Selasa, 25 Agustus 2015
Topeng
Dua orang, tiga orang, empat orang, banyak orang bertemu
Tersenyum, saling tersenyum
Ada senyuman yang memang senyuman, ada senyuman sebagai
pelengkap suasana
Ada yang memang suka tersenyum, ada yang hanya pura-pura
tersenyum
Dua orang, tiga orang, empat orang, banyak orang berbicara
Mendengarkan, saling mendengarkan
Ada yang memang mendengarkan karena kagum, ada yang hanya
mendengarkan sebagai pelengkap suasana
Ada yang mendengarkan karena ingin, ada yang mendengarkan,
namun tidak benar-benar peduli.
Sering ku jumpai, namun aku hanya mampu melihatnya saja
Karena mungkin saja, topengku yang paling tebal diantara
mereka
Mungkin saja, barangkali aku sudah memberitahumu bahwa hal
sederhana yang dirindukan dibumi ini sebenarnya hanya satu, kejujuran.
Kejujuran yang kata orang pahit, menyakitkan. Hmmm drama
sekali terdengarnya, tapi memang benar.
Ada yang selamanya memakai topeng itu, ada yang ingin
melepas namun tak bisa, ada yang tidak ingin memakainya karena lelah.
Akan tiba saatnya, seorang yang lelah, percaya dengan
seseorang lain.
Bukan untuk menjadi tempat melepas topeng lalu memakainya
kembali,
Namun menjadi alasan bahwa topeng sebagus apapun tidak
menarik perhatiannya
Dan Aku yang hanyalah Aku, yang diingintahuinya.
Barangkali Aku dan setiap orang yang tadi kusebut itu sama,
Lalu mengapakah kita tidak berlomba mencoba untuk melepasnya
dari sekarang?
Hmmm, tapi mau bagaimana bila topengmu sebagus itu,
sesempurna itu.
Kau membuatnya dengan susah payah, akan lebih susah
melepasnya.
Aku juga membuatnya dengan susah namun tidak payah, hanya
mungkin kini aku lelah
Karena topengku nyatanya tidak setangguh itu.
Sekotak Susu
Barangkali setiap benda punya ceritanya, ini adalah ceritaku
bersama sekotak susu cokelat yang biasa kuminum. Ku bawa kemanapun, agar dahaga
dan laparku hilang. Terkadang meminumnya karena malas mengunyah. Terkadang
meminumnya karena sedang ingin saja. Terkadang meminumnya jika sedang rindu.
Cerita ini tentu berbeda dengan cerita biskuit cokelat,
cerita sekotak susu cokelat ini hanya sebentar, sedikit saja. Namun mampu
membuatku lupa sukaku dengan biskuit cokelat yang rasanya kini berbeda, tidak
sepeti dulu. Sekotak susu cokelat tetap sama, manis. Manis dan mengenyangkan.
Manis dan menyenangkan. Meski kisahnya saja yang ku punya.
Bukankah ini sudah lama sekali?
Namun setiap ku meminumnya, senyum ini tidak terelakkan.
Entah mengapa bisa begitu.
Mungkin reaksi indera perasa yang merasakan “manis” :)
Bahagia selalu ya, :)
Ku cukupkan cerita ini. :)
Untukmu yang terlalu singkat,terima kasih dari hati :)
Mini Review Battle Of Surabaya
Well guys, yang sudah lama ditunggu akhirnya tayang juga. Yaps
setelah ditunggu-tunggu tiga tahun lamanya, akhirnya film animasi pertama karya
anak Indonesia, Battle Of Surabaya tayang di bioskop seluruh Indonesia. Yes,
film animasi :)
Sebenernya mau flashback sedikit, dulu seingatku di
Indonesia ada film animasi “Meraih Mimpi” yang di dubbing-in sama Gita Gutawa
dan Giring Nidji, namun ternyata yang pure buatan anak Indonesia dalam segala
aspek, ya film ini B.O.S. Okey, next.
Karena begitu exited pengen nonton, jadinya sejak dapet info
film ini tayang langsung disegerakan nonton, you must did it too hehe. Karena gak
bakalan nyesel, menurutku film ini sudah tidak se-biasa itu. (biasanya film
animasi Indonesia (serial animasi yang tayang di tivi, dari segi cerita kurang
greget). Yuk diulas satu-satu. (diulasnya ala ala ya ini ehehehe)
Dari segi animasi, sejujurnya scene-scene dalam film ini
terasa banget bernuansa kartun jepang. Kayak naruto, avatar the legend of aang,
captain tsubatsa. (ini aku berusaha hanya menikmati filmnya saja tanpa berusaha
mengingat gimana kudu telatennya animators yang bikin ini, karena aku ga bisa
bayangin gimana susahnya gambar 25 fps) dan ini mungkin karena ngerasa familiar
sama suara dubber karakter Musa, hehe.
Dari segi cerita, dua jempol untuk film ini. Sampai
bertanya-tanya, ini yang nulis naskahnya siapa. Aku rasa 60% dialognya ini
mengandung makna, yang garis besarnya memang “Tidak ada kemenangan dalam
peperangan.” Dan banyak lagi kata-kata yang bisa dikutip, apalagi
dialog-dialognya Yumna (karakter favoritku di film ini), yang beberapa kali
bikin aku merinding. Dan film ini juga karakternya kuat-kuat. Latar belakang
tokoh yang berbeda-beda bisa aku mengerti dengan baik (tanpa ngerasa bingung). Pesan
filmnya sampai, dan… my tears are falling. Suka juga sama alurnya yang kalau
digambar di grafik itu bakalan naik turun. Awalnya sedih terus dibikin jatuh
cinta terus sedih lagi eh tapi terus lucu sampai ketawa ngakak terus ada
tegang-tegangnya terus sedih lagi terus agak tenang..and the ending.. aku
ngerasa klimaks banget, karena ujung film ini bikin aku nangis se-abis abisnya.
Hhhhaaahiks. (nangis gegara film animasi gapapa kan ya? Biasanya adegan bikin
aku nangis-nangisan cuma pas nonton drama korea hehe) eh tapi jangan salah,
bahkan mas-mas yang duduk disebelahku (gatau siapa) pas adegan Tuan Yoshimura
meninggal aja udah mewek, ternyata ada yang lebih muellow nonton film drama
beginian daripada aku, kataku dalam hati. Hahahahiks.
Dari segi soundtrack, lumayan menurutku. Karena mampu
ngebawa suasana filmnya, bisa membuat mood naik turun. Dan suara dubber,
especially Maudy Ayunda, masuk banget ke karakternya. Great job! Reza nya juga
hehe. Dan yang nge-dubberin tentara Inggris yang ngejar Musa. Itu keren banget
suaranya. Sampai masih inget dialognya..”Well done Musa, see you again my
friend.” (maaf kalau salah) itu salah satu bagian favoritku hehe.
Dan entah kenapa, aku pengen nonton ini lagi hehe. Rasanya kurang
kalau nonton sekali. Hehe. Oh ya, dan yang lumayan bikin seneng adalah
bioskopnya nggak sepi. (pernah banget soalnya kebioskop isinya cuma 20 orang
se-theater gegara yang diputer film Indonesia) dan ini nunjukin kalau
masyarakat tertarik dan respect sama film animasi buatan negeri sendiri :)
Salut sama animators-nya! Amikom Yogyakarta yang logonya
diawal bikin bangga banget, You did well!! Ga rugi nungguin lama, tapi memang
jadinya bagus. Dan sekarang juga jadi tau, kenapa Walt Disney mau ngebeli ini. Jadi
tau sejarah Surabaya, jadi tau kalau bikin film animasi itu butuh waktu lama,
jadi tau “There is no glory in war” :)
Let’s check it to the cinema, guys. Don’t forget bring the
tissue buat cewecewe yang suka mewe. Hehe.
Thanks for Read, Goodreaders!
Rabu, 15 Juli 2015
Ramadhan untuk Ramadhani
Malam ini, malam terakhir bulan Ramadhan. Besok adalah hari
terakhir kita menjalankan puasa Ramadhan di tahun ini. Kurang dari sehari lagi
Ramadhan pergi. Pergi dan menjadi yang paling dirindukan lagi.
Tahun ini Ramadhan mengajarkanku tentang rendah hati,
tentang perhitungan Allah yang tidak pernah bisa kita terka, taksir atau
tertebak. Dia selalu punya caraNya menunjukan betapa kuasaNya Dia. Dan belum
ada apa-apanya aku ini sebagai seseorang yang mengaku menghamba pada-Nya namun
pembuktian cintaku kepadaNya belum sebesar hamba-hambaNya yang lain, yang
berlomba-lomba menarik perhatianNya, termasuk aku.
Tahun ini Ramadhan mengajariku tentang mensyukuri waktu yang
kita punya, tentang berharganya ia karena tidak ada sedetik pun waktu yang bisa
terulang, sedang penyesalan selalu hadir tepat setelah waktu itu berlalu. Dan
rasa kecewa adalah sebaik-baik pelajaran agar kita belajar dan selalu berbaik
sangka kepadaNya, Sang Pengatur Segala Cerita Kehidupan. Mengutip dari kata-kata
seorang teman, selalu yakini, “Allah menyayangi kamu, dan Allah ingin kamu
belajar banyak hal didunia ini.” Dan barangkali ikhlas itu susah, maka
keyakinan tentang beberapa hal tadi bisa menguatkan hati kita, kerelaan tentang
segala sesuatu yang tak terengkuh. Namun dibalik itu semua, selalu yakini Allah
telah menyiapkan cerita yang lebih indah pada waktunya nanti, yakini saja.
Allah Maha Baik, Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Bukankah
Allah adalah apa yang diprasangkakan hambaNya? Seperti kataNya? Dan barangkali,
Allah adalah satu-satunya yang tak akan mengingkari janji.
Tulisanku ini, ku tujukan untuk RamadhanNya yang menyapaku
tahun ini. Semoga tahun-tahun berikutnya Ramadhan masih bersedia
menyapaku, dalam keadaan yang selalu lebih baik dari sebelumnya, amin. Bulan
kelahiranku, yang akan ku rindu, yang akan semua orang rindukan. Semoga Allah
selalu mengijinkan kita bertemu ya, Ramadhan. Semoga Allah mengabulkan :)
Dan kepadaMu Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui Segala Isi
Hati, tulisan ini ditulis oleh seorang ‘ciptaanMu’ yang membutuhkanMu untuk
menuntunnya disetiap langkahnya agar selalu mengarah kepadaMu. Tuntun dia
selalu Ya Allah, ridhoi setiap jalannya, pertemukan dia dengan orang-orang yang
akan membuatnya lebih dekat denganMu. Amin.
Ku yakin satu hal, Engkau Sang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang,
“Ya Allah, jadikan kami, hambamu yang Kau cinta..” – Salam Ramadhan, Gita Gutawa.
*tulisan ini aku tulis, sebagai pengingatku yang mungkin pelupa. Agar aku tak lupa rasa-rasa yang kulewati dan hal-hal yang terlewatkan pada Ramadhan ini. Aku bukanlah seorang yang kau lihat religius, atau tiba-tiba menjadi religius pada bulan Ramadhan ini. Aku membebaskanmu menilaku sesuka hatimu. Namun bila kau tau rasanya rindu, barangkali itu yang sedang kurasakan saat menulis ini. :’)
Langganan:
Postingan (Atom)