Jumat, 10 Juli 2015

Venus dan Saturnus



Malam ini malam 23 Ramadhan, dan aku hanya bisa menerima keadaan bahwa dimalam-malam akhir Ramadhan ini aku malah kedatangan tamu dari bulan.  (you know what I mean, kan?) hmmm, itu nggak enaknya jadi cewek, skip.

Hari ini aku dapet tugas buat menuhin undangan buat perform di Bazar Ramadhan di Colors Radio sama temen-temen Soundcloudku tercintah. Terhitung ini udah kesekian kalinya diundang di Bazar Ramadhan, ada sedih dan senengnya sih kalau perform pas bulan Ramadhan gini. Senengnya, jadi pernah perform dimana-mana, sedihnya terkadang nggak bisa sholat teraweh berjamaah. Tapi udah kayak jadi tanggung jawab sih untuk menuhin undangan-undangan itu, terkadang, hiks juga.

Nah disetiap event-event yang aku datengin, disitu aku jadi punya teman-teman baru, jadi tau komunitas-komunitas keren lainnya di Surabaya. Dan malam ini, nggak nyangka bisa gitu ketemu sama komunitas keren bernama “Surabaya Astronomi Club” yang kebetulan malam ini juga diundang di Bazar Ramadhan nya Colors Radio.

Karena namanya aja Surabaya Astronomi Club, jadi kegiatan mereka adalah mengamati benda-benda langit. Nah tadi pas di Colors, mereka membawa beberapa teleskop yang dari awal mereka dateng udah menarik perhatianku karena rasa penasaranku sama sebuah benda yang bahasa puisinya adalah teropong bintang, hehe ngarang ding.

Awalnya bingung juga mau nyamperin ke orang-orangnya kudu gimana, namun karena ngelewatin mereka, jadi dengan malu-malu tapi pengen tau, akhirnya memberanikan diri buat bilang kalau kita pengen ngeliat apa yang diliat dari teleskop itu. Dan tau apa? Saturnus dan Venus!

Saturnus tepat diatas kepala kita, dan Venus berada di sebelah barat. Dari teleskop keduanya sih nggak terlihat besar, tapi seenggaknya kita bisa melihat keduanya lebih dekat. Dan yang paling bikin seneng sekaligus takjub adalah, Venus senyum ke aku pas aku ngeliat :) hihi . Ini beneran nggak mengada-ada bentuk Venus malam ini serupa bulan sabit, bulan sabit kesukaanku. :)

Subhanallah.
 :')

Aku termasuk seorang yang suka mengamati langit. Dan pemandangan langit favoritku adalah sebuah bulan sabit dan sebuah bintang disampingnya. Selalu terlihat di langit malam cerah di tanggal 5-10 penanggalan Hijriah setiap bulannya di sebelah barat. Bisa ngeliat jelas di sebelah barat pas subuh, bangun tidur, buka pintu rumah terus disenyumin sama bulan, seneng kan? Hihi (maaf kalau drama ya, tapi ya emang kayak gitu aku senengnya hehe)

Oh iya, tentang kesukaanku terhadap langit, bisa kamu baca ulang di postinganku beberapa tahun lalu, Anak Langit - Arsy dan Titik Hujan

Diantara keterbatasanku memikirkan hal-hal yang tidak untuk difikirkan.
Bumi ini luas, berisi kurang lebih 5 Milyar manusia dan belum termasuk berapa kwintrilyun hewan dan tumbuhan mulai dari yang sebesar Komodo hingga yang sekecil plankton. Tapi perlu diingat, bahwa Jupiter lebih besar dari Bumi dan Matahari masih jauh lebih besar dari Jupiter. Dan sampai kita bisa melihat sistem tata surya kita, dan berapa sepermili ukuran kita sekarang? Sementara aku mencoba untuk men-zoom out lagi galaksi bimasakti kita dengan galaksi lainnya – dan zoom out lagi hingga galaksi-galaksi itu tampak seperti hamparan pasir dipantai terluas didunia – dan zoom out lagi – pause. I think it’s enough.

Well guys, kesukaanku terhadap benda-benda langit, membuat aku semakin kagum kepada Sang Pencipta Segala Alam Semesta beserta isinya, Allah SWT. Kita bukanlah apapun, dan Allah Maha Besar, Maha Pencipta Segalanya. Mencintai ciptaanNya, membawa kita pula untuk mencintai Penciptanya :)

Thanks for read, Goodreaders :)


Sabtu, 04 Juli 2015

Kuliah Malam Itu Gini Rasanya



Dan finally UAS semester dua berakhir dengan bahagia :D

Rasanya kangen juga buat bikin banyak tulisan kayak dulu lagi. Tapi sekarang aku jadi nemuin jawaban, kenapa beberapa blogger yang aku ikutin itu jarang posting tulisannya. Yaps, karena mungkin mereka  punya banyak kesibukan yang menyita waktu. Emmm, btw, bukan itu sih yang mau aku ceritain kali ini hehe..

Nggak kerasa udah setahun aku ngejalanin rutinitas baru yang cukup menyita waktu dan banyak fikiran sekaligus banyak uang. Hehe bercanda (eh tapi serius juga sih). Perasaan campur aduk antara seneng, sedih, capek, galau, tapi tetep exited ngejalaninnya. Dan makin kesini makin seru (insya allah).

Di semester satu dulu mungkin masih dalam tahap penyesuaian diri dengan segala macam ritme berfikir yang kudu diatur banget biar nggak stress. Gimana enggak, aku (dan teman-teman yang lain)  yang mutusin buat ngambil kuliah sore, otomatis akan berada dikelas dikala stamina udah 60% terpakai. Terpakai buat kerja pagi harinya. Beruntung aku punya temen-temen sekelas yang lumayan se-visi misi. Stereotip semua orang yang menganggap “Mahasiswa sore itu niatnya cuma pengen gelar doang” perlahan mulai bisa terkikis barangkali, ya setidaknya kalau melihat kelasku saat ini. Walaupun mungkin prosentasenya hanya 2 banding 50 kelas. Sedih sih kadang, tapi tetep bersyukur karena termasuk yang 2.

Aku bertemu dengan teman-teman yang punya semangat belajar yang tinggi, dan niat banget kuliah. Dan hampir 98% dari mereka biayain kuliahnya sendiri. Satu komitmen yang nggak main-main menurutku, dan berlaku buatku juga. Dua tanggung jawab yang kudu dipenuhi. Pertama, pasti bayar kuliahnya. Kedua,komitmen untuk tetep kuliah dengan nilai yang nggak mengecewakan. (karena udah bayar mahal juga). Dan sebagian besar dari kami, juga lebih menghargai kuliah, karena biayain sendiri. Kalau nggak rajin kuliah, malah rugi sendiri. Kalau males-malesan dan dapet nilai jelek, rugi sendiri kuadrat.

Kalau dibuat suka duka, secara kasat mata banyak dukanya. Haha. Yang pertama, stamina tubuh kudu 200% karena setelah lelah bekerja, kudu ada stamina buat berfikir lagi buat kuliah. Kedua, bakal sering pulang malem. Ini konsekuensi yang lumayan kudu difikirin, apalagi buat yang cewek. Kudu lebih banyak berdoa, (jago) ngebut (dikit), dan persiapan lengkap, pokonya kudu keliatan jadi wanita strong gitu (meski rapuh aslinya haha bercanda ding). Ketiga, bakal kudu rela banget uang jajan berkurang banyak banget. (kalau yang udah ngerasain ini pasti mengerti apa yang ku maksud hehe) dan karena menurutku, ketika kita sudah kerja dan punya uang sendiri, kita pasti ada rasa malu kalau minta orang tua lagi, ada rasa semacam lebih ingin memberi, walaupun orang tua nggak pernah menuntut apapun dan kalau misal minta juga pasti dikasih. Tapi tetep aja rasanya nggak enak. Buat kamu yang udah kerja dan bisa cari uang sendiri pasti tau rasanya :)

Itu dukadukanya, sukanya apa yaaa, emmm mungkin jadi punya teman-teman baru dan ilmu-ilmu baru. Jadi makin semangat cari tahu banyak hal lagi. Pokoknya kalau lagi capek dan males-malesan, nginget-nginget aja tujuan awal melakukan semua ini untuk apa :) Insya Allah bakal tercerahkan lagi :)

Dan tips biar nggak bosen dan stress, kalau ada libur dan celah waktu, gunakan waktu sebaik mungkin untuk hobi dan kesenangan. Karena semuanya bakal saling bersinergi. Barangkali  kita memang tidak bisa menjadi mahir dibanyak bidang, tapi setidaknya kita menjalaninya dengan hati yang senang. Dan semua akan berjalan dengan baik-baik saja :)

Well guys, itu sedikit cerita yang serupa curhatan tentang rasa nanonanonya kuliah malam. Ini juga semoga bisa menjawab beberapa pandangan orang yang ‘underestimate’ dan mungkin menganggap remeh Mahasiswa seusai senja hihi. Nggak semuanya kayak gitu juga sih, banyak yang appreciate juga. 

Barangkali, ilmu bisa dicari dimanapun dan kapanpun. Bisa lewat ustadz, guru, teman-teman, pengalaman hidup bahkan situs-situs di google.com . Yuk sama-sama saling nyemangatin buat belajar! ;)


Thanks for read, Goodreaders :)



Seperti sebuah perjalanan, apakah kamu jeda itu?
Jeda yang melarangku melihat kebelakang dan hanya mengijinkanku memikirkan perjalanan selanjutnya
Kita tak pernah benar-benar berada dalam dialog yang panjang
Yang ada hanya tatapan, tatapan yang membuatku mengikuti arahnya

Jadi, dialog mana yang paling ku ingat darimu?
Jawabanku, tidak ada.

Barangkali kamu bukan orang yang hangat itu,
Tak sebanyak aku berbicara, tak begitu mudahnya melibatkan dirimu dalam keramaian
Namun mungkin kamu tahu satu hal,
Kamu tahu kalau aku suka melihat senyuman,
Dan aku mulai suka melihatmu yang dingin, tersenyum

Biarlah tetap berjarak kini
Biarlah segalanya tetap saling mencari
Seperti tatapan-tatapan itu mencariku
Seperti senyum-senyum itu menanti untuk ku sapa
Seperti hari-hari yang tiba-tiba menjadi ku-rindukan

Aku tak ingin bertanya-tanya
Biarlah segalanya tetap saling mencari ya,
Bukankah hari-hari ini yang tiba-tiba menjadi yang paling membuat rindu?




Selasa, 16 Juni 2015




Ku awali ceritanya dari sini,
Saat ku mulai menyukai senyum-senyum itu
Senyum yang tak sengaja ku rindukan diam-diam
Ini bukan rasa yang sedang kau fikirkan, hey
Jangan menuduhku menjatuhcintainya terlalu cepat

Biarkan ku berjarak dengannya kini
Biarlah tetap berjarak

Dan dari sekian suka-ku terhadap hal-hal baru,
Satu suka-ku kali ini,
Aku suka melihatnya tersenyum.

 :)




Jumat, 20 Februari 2015

21




Alhamdulillah, Aku masih diizinkan bangun pagi tadi. Membuka mata dan bernafas seperti biasanya. Dalam keadaan sehat dan masih dengan mimpi setiap malam. Pagi ini aku bangun disambut dengan senyum ibu dan adik kecilku yang menyanyikan lagu “happy birthday to you”. Ya walaupun tadi bangunku kesiangan karena aku libur kerja hari ini. Alhamdulillah lagi hihi.

Tadi malam, Aku teringat Ayah. Mungkin aku sedang merindukannya. Bukankah momen ulang tahun selalu membuat kita mengingat orang-orang yang paling kita rindukan? Setidaknya untuk memastikan apakah mereka masih mengingat hari ulang tahun kita? Atau sekedar memberi ucapan selamat ulang tahun? Terakhir, Ayahku mengucapkan selamat ulang tahun untukku pada saat aku berusia 9 tahun. Sekarang usiaku 21 tahun. Tapi aku yakin, ayah tak pernah lupa ulang tahun anak gadisnya ini. Semoga, nanti malam ketemu Ayah, penasaran nanti aku dikado apa. Hehehe. Maaf, sebenernya nggak seharusnya semanja itu di usiaku ini ya, tapi bagaimana, setiap mengingat ayahku, aku selalu nyaman menjadi anak selayaknya berusia 9 tahun. Aku tak begitu punya ingatan yang baik setelah itu tentang ayah. Yang aku tau, Ayah pasti baik-baik disisi-Nya. :)

Aku beruntung, hari ini aku masih dikelilingi oleh orang-orang baik dan kusayangi. Mereka tak hanya sekedar memberiku selamat, namun banyak mendoakanku juga. Mereka baik bukan? Aku beruntung memiliki mereka, setidaknya hari ini aku jadi tau, mereka teramat penting bagiku. :’)

Karena aku free dan dirumah saja, hari ini aku jadi punya banyak waktu untuk cerita banyak hal ke Ibu. Semenjak kerja dan kuliah, waktu ceritaku berkurang. Dan hari ini rasanya seperti melepas rindu sejenak dengan bercerita seperti saat aku masih bersekolah dulu. Tiap pulang sekolah selalu menceritakan apapun yang terjadi denganku.

Well, hari ini aku lewati dengan damai. Tanpa hingar bingar. Kurasa, mungkin sudah bukan masanya. Usiaku ternyata sudah sebanyak ini. Masih banyak PR ku, dan segala rencana dan misi yang harus ku selesaikan dengan baik. (Ini jadi kayak intel UK ya haha) semoga kita semua selalu diberi kelancaran ya guys :)

Sukses untuk kita semua :)
Selamat terlahir kembali :)

Mungkin aku akan mendewasa, namun semangatku takkan menua :)


Minggu, 25 Januari 2015

Kenapa Aku Menulis?




Meskipun tak benar-benar percaya dengan apa yang dinamakan zodiak, tapi barangkali alasan yang tepat untuk yang satu ini benar-benar karena memang aku berzodiak pisces. Pengkhayal. Sejati. Pengkhayal ulung kalau aku biasa menyebutnya diam-diam.hhe.

Walau sudah nggak seperti dulu yang kadar mengkhayalnya kebangetan, namun sekarang pun masih ada beberapa sel dalam diriku yang tetap mengizinkanku untuk mengkhayal. Bukankah mengkhayal itu mengasyikkan? Hhe. Tidak semuanya. Namun memang dari sanalah aku mendapat cerita-cerita tak terduga yang kadang membuatku berfikir untuk merealisasikan khayalan, pertanyaan, dan apa-apa saja yang berputar-putar di kepalaku, atau di alam yang entah namanya apa. Alam khayalku.

Lalu, kenapa aku menulis?

Ada sebagian orang yang mengganggap remeh tulisan-tulisan super-ringan (semacam yang ku tulis ini misalnya) sebagai tulisan yang tidak penting. Mungkin benar. Hhe. Enggak-enggak, tentu saja enggak. Tidakkah kamu pernah berfikir bahwa setiap detik dalam hidupmu adalah hal yang berarti? Berarti tak selalu karena kau melakukan hal penyelamatan terhadap Negara, melainkan hanya sesederhana setiap detik dalam hidupmu tidak akan pernah kembali dan terulang lagi.

Barangkali aku mulai bisa menulis saat aku di taman kanak-kanak. Menulis A B C D E. Kemudian entah sejak kapan aku mulai menulis buku harian. Hingga yang terlupakan sama sekali, mampu ku ingat kembali, teman-teman masa kecilku dan betapa lugunya aku ketika itu. Ketika aku dengan malu-malu menyukai teman laki-laki ku, sedangkan saat itu, usiaku belum genap 10 tahun. Aku tak pernah benar-benar mengingatnya jika kala itu aku tak menuliskannya di buku harianku bersampul “pink hana” yang dibelikan Ibu. Hehe. Aku tak menulis setiap hari sebenarnya. Tapi aku menulis. Ah aku tak akan melupakan momen-momen itu. Tulisan-tulisan itu membantuku menyimpan memori kecil masa-masa ku yang terlewati. Tidak luar biasa, namun mampu membuat tersenyum kecil saat ku membaca nya ulang di masa-masa ku sekarang ini. Mereka, berarti. :)

Dan yang sekarang yang coba ku lakukan adalah menulis apapun yang ingin ku tulis. Pernahkah kamu membayangkan, kelak dua puluh  tahunan lagi (semoga Allah selalu memberi panjang umur dan kesehatan kepada kita semua, amin) anak atau lebih jauh, cucu-cucumu, dikehidupan yang lebih canggih dan modern lagi, akan menanyakan tentang cerita hidup orang tua atau kakek neneknya? Hehe, mungkin ini kejauhan. Tapi ya itu yang sedang ku fikirkan selama ini. Aku ingin mereka mengenalku dengan baik. Mengenalku dari aku secara langsung.Membaca tak hanya tentang idola mereka, namun bisa menceritakan sejarah pendahulunya. Mereka akan sebenar-benarnya tau apa yang terjadi di tahun tahunku ini. Bagaimana atmosfernya, trendnya. Hhe. Mungkin kejauhan, tapi semoga memang bisa sejauh itu. Dan semoga teknologi internet dan blogspot ini juga masi digunakan ketika waktu itu tiba. Hhe.


"Menulislah dan kau akan dikenang."


Apa yang benar-benar kita tinggalkan nantinya? Cerita kita saat ini, untuk-kelak. :)


*
Tulisan ini ku tulis untukmu dan untukku sekaligus. Sebagai pengingat, bahwa setiap orang adalah penulis, penulis cerita. Setidaknya cerita hidup mereka masing-masing :)