Sabtu, 18 Oktober 2014

Minggu, 12 Oktober 2014

Bahagia :)



Kisah ini dimulai?
Aku rasa tidak (akan)
Belum, atau mungkin cukup?
Aku kira sudah (menyenyumkan)

Kisah yang tak ku beri awal dan akhiran
Anggap saja berjalan, selayaknya pejalan lain
Kalau yang ingin dicapai adalah bahagia,
Maka ditengah –tengah bukankah yang paling bahagia?

Mencarinya tak akan berguna,
Dia akan dengan ramah menyapamu jika kau yakin dia akan datang kepadamu
Senyum itu, ringan ternyata.
Tak semenyeramkan seperti sebelumnya,

Asal darimu, itu bahagia.


Senin, 06 Oktober 2014

Seorang Sepi




Dia membuka pintu untukku,
“Hei, masuklah dan kau akan nyaman”
Hening, sepi, hanya suara nafas dan kecanggungan yang terdengar
Lalu tawa itu memecahkan hening yang hampir tumpah

“Jangan disana, bising.
Kemarilah duduk, diam saja menemaniku”. Katanya
Aku adalah riuh yang dengan bijak terdiam disampingnya
Hanya duduk dan menikmati heningnya yang angkuh

Tak terusik, dunianya.
Walaupun rasanya aku sangat ingin menggodanya menjadi pengusiknya
“Dunia tak sesempit itu, usik saja dunia yang lain”,
Dia hendak menyuruhku pergi?

Aku datang, dan dia menyambutku.
Barangkali, saat aku pergi, dia akan mengantarkanku.

Selasa, 23 September 2014


Bertemu teman baru, lingkungan baru, tempat persembunyian yang baru
Menyenangkan, sekarang aku jadi tau sedikit rasanya
Begini,

Aku memahami, kenapa yang menurutku sulit dahulu nyatanya memang begitu mudah
Tenyata begini,

Lalu sejak kapan aku menjadi mudah akrab dengan keadaan yang bahkan tak pernah ku duga?
Barangkali, sejak ku mengenalmu
Semua keadaan setelah perkenalan itu tak pernah ku duga
Termasuk hari ini, aku yang sekarang ini
'Aku' yang tak pernah ku duga

Duniaku tak sepenuhnya baru
Masih ada jejakmu yang selamanya akan tertinggal tanpamu
Lalu apa yang lebih menyenangkan dari sekedar berputar-putar?



Kamis, 21 Agustus 2014

Pengelana



Perjalanan demi perjalanan
Persinggahan lalu persinggahan
Tak pernah benar-benar tinggal
Hanya meneruskan arah dari peta yang dibuatnya

Menemui banyak pemukim yang berbeda
Yang dijadikannya sahabat sementara
Untuk menemani, menemaninya sejenak dikala singgah
Kemudian pergi dengan salam perpisahan
Berulang, akan selalu begitu selama pengelanaannya

Berteduh dari terik dan deras hujan
Diantara pelukan sengat dan kedinginan
Berhenti sejenak lalu pergi lagi
Seakan perjalanannya belum akan selesai dalam jarak yang dekat
Diburu waktu dan keinginannya untuk terus berjalan

Pengelana, apakah kau tidak lelah?
Apa ujung dari arah petamu adalah sebuah rumah?
Atau hanya sebuah bukit yang tinggi? Atau mungkin hanya hamparan rumput tak bertepi?
Lalu, dimana rumahmu?

: tanya untuk pengelana


Minggu, 27 Juli 2014

Tanyamu


Kenapa bertanya?
Apa kamu masih ingin mendengar jawabanku?
Jawabanku masih menarik untukmu?
Lalu untuk apalagi?
Apa semuanya akan kau tinggalkan ketika ku menjawab ‘iya’?
Atau aku yang akan sepenuhnya kau tinggalkan ketika ku menjawab ‘tidak’?
Atau tidak akan ada yang berubah, sama seperti saat sebelum kau bertanya?
“Tinggal menjawab saja susah,” katamu, mungkin.

“Kenapa aku harus menjawab?”

“Aku ingin tau,” lanjutmu

Bukan sekarang, aku sedang tidak ingin ditanyai.
Bagiku, semuanya tidak sesederhana yang dibenakmu

Jangan dengar kata orang, dengarkan hatimu
Kau lebih tau aku daripada mereka, Kau lebih mengenalku daripada mereka
Meski semuanya terlanjur dibatasi dengan kata ‘pernah’
Dengan hatimu yang terlanjur luluh dengan nama yang lain
Dengan keraguanmu tentang teguhmu untukku
Dengan ketidakberanianmu menghapus ‘batas-batas’

Aku masih ingat,
Ketika akhirnya kau menyebut sebuah nama itu, bukan namaku
Hingga akhirnya aku mengerti, bumi ini berputar terlalu cepat
Atau hatimu yang berpindah terlalu cepat
“Lebih lama lah bersamaku, sejenak.” kataku di waktu yang lain
Kau diam, memikirkannya, mungkin. Aku berlalu darimu .  
Aku takut membuatmu jatuh cinta.”, suaramu samar terdengar dari jarakku melangkah.

Sejak kapan kamu jadi penakut?
Sementara kau selalu mengajariku jadi pemberani
Kenapa kau baru bertanya sekarang?
Ketika aku sudah tak punya jawaban

‘iya’ atau ‘tidak’


"Aku tak pandai berbohong dan tak ingin menghianati kata-kata dalam hati. Tak sanggup menghindari pertemuan, namun tak bisa mengelak perpisahan. Apa aku sudah melakukan hal yang benar? Sementara tidak ada yang salah didunia ini untuk orang-orang yang belum mengerti." - Beku.