Minggu, 24 Januari 2016

3




Semester Tiga berakhir dengan bahagia, inshaAllah. Walaupun khs nya belum keluar, tapi hasilnya semoga menyenyumkan, amin.

Agak kikuk juga rasanya mulai menulis untuk mengisi blog ini lagi, sudah sekian lamanya tidak menulis. Sebenernya menulis, tapi di tempat lain. Ditugas-tugas yang berhamburan, hehe biar dramatis. 

Semester tiga ini kuliahnya cukup menyenangkan dan lebih santai dari semester sebelumnya, menurutku. Dengan dosen-dosen yang nggak kalah asik sama semester sebelumnya. Di semester ini, aku dipertemukan dengan dosen-dosen muda yang ngasih spirit-spirit baru. Mata kuliah public speaking dan dasar-dasar jurnalistik, jadi yang paling menarik diantara kesemuanya. (walaupun nanti aku akan ngambil konsentrasi public relations di semester lima, tapi dunia journalist tetep menarik ehehe).

Dan ada satu yang berkesan banget, di semester ini aku diajarin sama Professor. Nama lengkapnya, Prof.Dr.Tondowidjojo. Dosen mata kuliah Human Relations. It was cool, for me seriously! Bukan underestimate atau lain-lainnya sih, tapi ngerasa surprise aja, jadi bisa ngerasain nyapa dosen dengan “Professa..professa..” ala-ala film Harry Potter hihi. Dan yang bikin aku salut dan kagum sama Professorku ini adalah di usianya yang kurang lebih 82 tahun, dia masih produktif. Baik mengajar, menulis paper, dan masih aktif dalam kegiatan-kegiatan pelestarian budaya Indonesia. Pengalaman beliau yang sangat panjang dan banyak sekali, dari cerita-cerita yang pernah dibaginya, sangat menginspirasi aku banget. Dan memang aku menganggap mata kuliah beliau, mata kuliah inspirasi, lebih sesuai rasanya.

And my favorite class, still my favorite. Kalau yang ini, sudah pernah aku jelasin di postingan-postingan terdahulu kenapa ‘favorite’? :)

Dan di semester ini aku merasa harus bisa bener-bener mengatur prioritas. Karena sebenernya banyak banget yang ingin aku lakukan tapi waktunya sangat terbatas. Kegiatan wajib dan hobi yang pengen diturutin. Dan akhirnya harus mengorbankan bergantian, nggak bisa kayak sebelumnya yang bisa melakukan 3-4 kegiatan ditempat yang beda-beda dalam satu hari bahkan. Bukan sudah nggak se-total itu lagi, tapi sekarang mungkin lebih memperhitungkan efisiensi antara waktu dan tenagaku yang ternyata terbatas ini.

Mumpung lagi musim libur kuliah (meskipun kerja tetep masuk hehe) aku pengen ngisi dengan menulis kali ini, inshaAllah. Lagi banyak yang berputar-putar di kepala, dan biar kepalanya nggak penuh, jadi harus dituang. Ada beberapa yang ingin aku bagi. Mulai dari cerita-cerita pendek yang mulai pengen aku tulis lagi sampai pandangan politikku tentang hal-hal yang terjadi diluar sana. Semoga terpenuhi semuanya, amin. 

Overall, terimakasih udah mau membaca sedikit curhat berbau keluhan ini. Hehe.
Semoga tidak menyesal terdampar disini.

Thanks for read, Goodreaders :)


Jumat, 02 Oktober 2015

Pray


Beberapa waktu yang lalu, barangkali kau sedang dihujani doa-doa, doa-doa baik.
Yang diberi orang-orang secara cuma-cuma diharimu. 
Mungkin doa ini kutujukan untukmu, milikilah jika kau suka.
Untukmu yang sedang mencari, semoga lekas menemukan.
Untukmu yang sedang memilih, semoga pilihanmu tepat nantinya.

"Jika tak ada lagi yang bisa kau lakukan untuk seseorang, barangkali kau bisa mendoakannya." - someone said.



Younha – Pray (기도) Romanization

geudaega gireul ilheosseul ttae
bicceuro bichwo juri
barame maeum heundeullil ttae
na geudaeui son jaba juri
geudaereul wihae gidohapnida
jikyeo dallago gidohapnida
naui baraemi daheul su issge
dathyeojin muni seoseohi yeollyeo
sangcheoe ulgo ttaeron jichyeoseo
jeolmange gathyeo apeuji anhgil
maeumeul dahae geudaeui wiroga doegil
oneuldo naneun gidohapnida
geudaereul wihae gidohapnida
jikyeo dallago gidohapnida
geochireun bada godoen i sesang
hanghaereul tteonan geudaereul wihae
sangcheoe ulgo ttaeron jichyeoseo
jeolmange gathyeo apeuji anhge
maeumeul dahae geudaeui wiroga doegil
oneuldo naneun gidohapnida

Younha – Pray (기도) Indonesian Translate

Ketika kau terjatuh
aku akan datang menyinarimu

ketika hati mu berdetak di hembuskan oleh angin
aku kan datang memegangi tangan mu

ku berdoa kepadamu
berdoa agar dirimu dilindungi-Nya

sehingga harapan ku bisa akan berhubungan denganmu
dan pintu yang tertutup perlahan-lahan kan terbuka

ku berharap engkau tidak mengisi hatimu yang terluka
atau terjebak dalam keputusan yang sesaat

dengan segenap hatiku, ku berharap mendapat terhibur
aku berdoa dan berdoa untuk hari ini

aku berdoa untukmu
berdoa bahwa engkau kan selalu di lindungi

dunia telah menjadi lautan yang sangat kejam
bagimu, engkau telah meninggalkanya untuk tidak berlayar

ku berharap engkau tidak mengisi hatimu yang terluka
atau terjebak dalam keputusan yang sesaat

dengan segenap hatiku, ku berharap mendapat terhibur
aku berdoa dan berdoa untuk hari ini


 (sorry for bad transalation)





Rabu, 16 September 2015

Dari Jauh



Seperti mata kamera yang menangkapmu, Aku mencoba melihatmu secara long shot bahkan extreme long shot. Agar segalanya lebih terlihat luas, apa yang ada disekitarmu, disekelilingmu dan apa yang sedang kau perhatikan. Dari sedekat close up senyummu nampak untukku, namun tidak dari sisi ini. Senyummu kulihat lebih luas jangkauannya. 

Aku masih melihatmu dari sini, untuk memastikan beberapa hal lagi yang menjadi tanya-tanyaku. Apakah yang kulihat hanya kebenaran yang maya? Atau peka inderaku yang tak terasah tajam? atau hanyalah kejadian salah menduga? Walau terkadang Aku ingin menyimpan senyummu dengan mem-freeze-nya, tapi apa jadinya ketika setelah itu nyatanya arah senyummu itu bukan untukku. Beku. 

Dari jauh, Aku tau apa yang sebelumnya belum ku tau. Dari letak yang berjarak, kini Aku tau apa yang sebenarnya sedang kulakukan.
Mencarimu. 

Dari sisi frame mana kau muncul, entah hanya lewat atau sekedar berdialog tegur sapa. Sudah. Kucukupkan merekammu dari sini, jika kurasa aku telah cukup mengerti, mungkin yang selanjutnya adalah cut.

Senin, 14 September 2015


Aku ingin menyelinap didalam mimpimu, yang pelan-pelan ku masuki tanpa kau tau. Apa kau sudah tau tempat persembunyianku? Aku tidak yakin bisa terus bersembunyi, menyembunyikanya. Aku hanya berdoa agar ketika Aku tertangkap nanti, Kau adalah satu-satunya yang paling mengerti semua ini sebelum semua. Agar ku tak malu mengaku, karena Kau mengakuiku.


Selasa, 25 Agustus 2015

Topeng




Dua orang, tiga orang, empat orang, banyak orang bertemu
Tersenyum, saling tersenyum
Ada senyuman yang memang senyuman, ada senyuman sebagai pelengkap suasana
Ada yang memang suka tersenyum, ada yang hanya pura-pura tersenyum

Dua orang, tiga orang, empat orang, banyak orang berbicara
Mendengarkan, saling mendengarkan
Ada yang memang mendengarkan karena kagum, ada yang hanya mendengarkan sebagai pelengkap suasana
Ada yang mendengarkan karena ingin, ada yang mendengarkan, namun tidak benar-benar peduli.

Sering ku jumpai, namun aku hanya mampu melihatnya saja
Karena mungkin saja, topengku yang paling tebal diantara mereka
Mungkin saja, barangkali aku sudah memberitahumu bahwa hal sederhana yang dirindukan dibumi ini sebenarnya hanya satu, kejujuran.
Kejujuran yang kata orang pahit, menyakitkan. Hmmm drama sekali terdengarnya, tapi memang benar.
Ada yang selamanya memakai topeng itu, ada yang ingin melepas namun tak bisa, ada yang tidak ingin memakainya karena lelah.

Akan tiba saatnya, seorang yang lelah, percaya dengan seseorang lain.
Bukan untuk menjadi tempat melepas topeng lalu memakainya kembali,
Namun menjadi alasan bahwa topeng sebagus apapun tidak menarik perhatiannya
Dan Aku yang hanyalah Aku, yang diingintahuinya.

Barangkali Aku dan setiap orang yang tadi kusebut itu sama,
Lalu mengapakah kita tidak berlomba mencoba untuk melepasnya dari sekarang?
Hmmm, tapi mau bagaimana bila topengmu sebagus itu, sesempurna itu.
Kau membuatnya dengan susah payah, akan lebih susah melepasnya.
Aku juga membuatnya dengan susah namun tidak payah, hanya mungkin kini aku lelah
Karena topengku nyatanya tidak setangguh itu.




Sekotak Susu





Barangkali setiap benda punya ceritanya, ini adalah ceritaku bersama sekotak susu cokelat yang biasa kuminum. Ku bawa kemanapun, agar dahaga dan laparku hilang. Terkadang meminumnya karena malas mengunyah. Terkadang meminumnya karena sedang ingin saja. Terkadang meminumnya jika sedang rindu.

Cerita ini tentu berbeda dengan cerita biskuit cokelat, cerita sekotak susu cokelat ini hanya sebentar, sedikit saja. Namun mampu membuatku lupa sukaku dengan biskuit cokelat yang rasanya kini berbeda, tidak sepeti dulu. Sekotak susu cokelat tetap sama, manis. Manis dan mengenyangkan. Manis dan menyenangkan. Meski kisahnya saja yang ku punya.

Bukankah ini sudah lama sekali?
Namun setiap ku meminumnya, senyum ini tidak terelakkan. Entah mengapa bisa begitu.
Mungkin reaksi indera perasa yang merasakan “manis” :)

Bahagia selalu ya, :)
Ku cukupkan cerita ini. :)

Untukmu yang terlalu singkat,terima kasih dari hati :)